Opini

Komunikasi Kesehatan di Era Digital: Memanusiakan Manusia, Menjaga Kepercayaan

×

Komunikasi Kesehatan di Era Digital: Memanusiakan Manusia, Menjaga Kepercayaan

Sebarkan artikel ini

Begitu pula ketika keluarga menunggu dalam kecemasan. Mereka mungkin tidak memahami seluruh prosedur medis, tidak mengetahui keterbatasan ruang perawatan, dan tidak memahami kompleksitas sistem rumah sakit. Yang mereka tahu adalah ada orang yang mereka cintai sedang membutuhkan pertolongan.

Dalam situasi seperti itu, empati bukan sekadar pilihan komunikasi. Empati adalah cara kita memanusiakan manusia. Tenaga kesehatan tentu memiliki batas profesional, prosedur, dan pertimbangan medis yang harus dihormati. Tetapi semua itu tidak pernah menjadi alasan untuk kehilangan penghargaan terhadap martabat manusia. Demikian pula masyarakat. Ketika menyampaikan kritik, kita juga perlu mengingat bahwa di balik profesi dokter, perawat, dan tenaga kesehatan terdapat manusia yang bekerja dengan keterbatasan, tekanan, dan tanggung jawab besar.

Karena itu, yang perlu dibangun bukan hubungan antara “pasien melawan tenaga medis”, melainkan hubungan antarmanusia yang sama-sama berusaha menemukan jalan terbaik.

Di sinilah kita perlu kembali kepada nilai-nilai sederhana yang semakin penting di tengah kehidupan digital, menghargai, mendengarkan, memahami, berempati, menjaga martabat, dan mensyukuri kehidupan.

Sebuah pesan yang terpampang dalam sebuah karya Pramoedya Ananta Toer mengingatkan kita “Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” Pesan tersebut mengajak kita untuk melihat kehidupan bukan sekadar sesuatu yang berlangsung begitu saja, tetapi sesuatu yang patut dihargai dan dijaga.

Baca Juga  Potensi Sumatera Barat Menjadi Tujuan Medical Tourism

Jika nilai-nilai semacam ini benar-benar kita pahami, mungkin cara kita berkomunikasi akan berubah.
Kita akan lebih berhati-hati ketika berbicara kepada pasien. Kita akan lebih bijaksana ketika memberikan komentar di media sosial. Kita akan lebih mampu menerima kritik tanpa merasa harus membalas. Kita juga akan lebih memahami bahwa di balik setiap persoalan terdapat manusia dengan perasaan, harapan, dan kehidupannya sendiri.