BeritaKabupaten SolokKesehatanKota SolokSumbar

Pengabmas Dosen Poltekkes Kemenkes Padang, Edukasi Deteksi Dini Stroke Dengan Metode FAST

×

Pengabmas Dosen Poltekkes Kemenkes Padang, Edukasi Deteksi Dini Stroke Dengan Metode FAST

Sebarkan artikel ini

SOLOK, hantaran.co – Dosen Poltekkes Kemenkes Padang, Prodi D3 Keperawaatan Solok, melaksanakan kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) dengan memberikan edukasi deteksi dini stroke kepada kader kesehatan melalui metode FAST di wilayah kerja Puskesmas se-Kota Solok.

Kegiatan edukasi yang diikuti sebanyak 40 kader dari empat Puskesmas di Kota Solok tersebut berlangsung pada 18-19 Juni 2026. Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Solok yang di wakili oleh Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Solok.

“Tim Pengabmas terdiri dari Dosen Prodi Keperawatan Solok Poltekkes Kemenkes Padang. Mereka adalah Tintin Sumarni S.Kp M.Kep, Dr.Aini Yusra Sp KMB, Anita Mirawati S.Kep M.Kep,” ujar Tintin Sumarni, Senin (11/8).

Ia mengatakan, dalam kegiatan tersebut seluruh peserta mendapatkan materi sekaligus prektek pengenalan tanda tanda awal stroke, penanganan awal, serta pentingnya segera merujuk pasien ke fasilitas pelayanan kesehatan.

Menurut Tintin, Penyakit Tidak Menular (PTM) masih menjadi salah satu penyebab kematian terbanyak di Indonesia dan merupakan masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius

Penguatan pelayanan kesehatan katanya, dilakukan melalui strategi peningkatan akses pelayanan kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, serta peningkatan mutu pelayanan dengan pendekatan continium of care dan intervensi berbasis risiko Kesehatan.

Baca Juga  TIM 1 SAFARI RAMADHAN KABUPATEN DHARMASRAYA KUNJUNGI MESJID AL – IKHWAN SUNGAI RUMBAI

“Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang masih menjadi masalah kesehatan utama. Stroke merupakan penyebab kematian kedua terbesar di dunia,” kata Tintin Sumarni.

Ia menjelaskan, stroke juga menjadi salah satu penyebab kematian utama di rumah sakit di Indonesia, dengan angka kematian sekitar 15,4 persen.

Tingginya angka prehospital delay menjadi salah satu persolan dalam penganganan stroke. Hal tersebut ditunjukan dengan hanya sekitar 18.7 persen pasien yang tiba di rumah sakit kurang dari 4.5 jam setelah onset.

Penelitian lain juga menunjukkan hanya sekitar 24,5 persen pasien stroke yang datang tepat waktu, yakni 3 jam dari onset stroke.

“Penanganan awal dapat dilakukan oleh keluarga, masyarakat, maupun tenaga kesehatan. Orang pertama yang biasanya bertemu dengan pasien stroke adalah keluarga,” jelasnya.

Ia menambahkan, keluarga merupakan unit dasar masyarakat yang memiliki komitmen untuk saling memelihara dan memberikan dukungan satu sama lain, baik secara emosianal maupun fisik. Karena itu, keluarga memiliki peran penting dalam menghadapi serangan stroke akut.

Namun, serangan stroke pada anggota keluarga masih kerab dianggap spele. Sebagian masyarakat menganggap bahwa gejala yang muncul sebagai masuk angin biasa atau akibat kelelahan.

Baca Juga  Listrik di Rayon Kecamatan Sutera dan Batang Kapas Mati Total, Ternyata Ini Penyebabnya

“Padahal keluarga sangat berperan penting dalam menghadapi serangan stroke akut pada anggota keluarganya. Untuk mengurangi keterlambatan penanganan strok, masyarakat yang beresiko perlu mengetahui tanda awal serangan stroke,” katanya.

Menurut Tintin, kader kesehatan merupakan salah satu perpanjangan tangan petugas kesehatan dalam memberikan edukasi dan penyuluhan kepada Masyarakat. Karena itu,
deteksi dini stroke di tingkat masyarakat menjadi salah satu upaya yang dapat dilakukan melalui metode FAST.

“Kader kesehatan merupakan salah satu perpanjangan tangan petugas untuk memberikan penyuluhan kepada Masyarakat. Salah satu solusi yang dapat dilakukan dalam deteksi dini stroke di masyarakat adalah metode FAST
yang sederhana dan mudah diajarkan kepada masyarakat awam,” ucapnya.

Metode FAST lanjutnya, memiliki tingkat sensitivitas deteksi stroke lebih dari 80 persen sebagaimana dilaporkan Kustani dan Widyarani (2020).

“Edukasi ini dimulai dari kader kesehatan sebagai sasaran. Nantinya, kader diharapkan mampu melakukan pertolo-
ngan awal dan memberikan penyuluhan kepada masyarakat di wilayahnya yang berisiko mengalami serangan stroke,”
tuturnya. (*)