Ia menjelaskan, proses penyaluran bantuan dilakukan melalui identifikasi teknis dan sosial ekonomi sehingga program benar-benar tepat sasaran. Usulan pembangunan berasal dari kebutuhan petani yang disampaikan secara partisipatif melalui pemerintah nagari bersama penyuluh pertanian.
“Usulan datang dari masyarakat. Wali nagari bersama penyuluh pertanian menyampaikan kebutuhan yang ada di lapangan kepada dinas, kemudian kami melakukan verifikasi dan menentukan skala prioritas,” katanya.
Dari sejumlah wilayah penerima, Kecamatan Gunuang Omeh menjadi daerah dengan alokasi pembangunan terbanyak, yakni sembilan titik jalan usaha tani. Kondisi tersebut dipengaruhi besarnya dampak bencana banjir yang merusak akses menuju lahan pertanian masyarakat.
Selain Gunuang Omeh, pembangunan juga akan dilaksanakan di Kecamatan Bukik Barisan, Harau, Kapur IX, Guguak, Akabiluru, dan Mungka.
“Di Gunuang Omeh kerusakan jalan usaha tani akibat banjir cukup banyak sehingga menjadi prioritas utama tahun ini,” jelasnya.
Meski anggaran telah tersedia, pelaksanaan fisik kegiatan masih berada pada tahap perencanaan. Dinas menargetkan pekerjaan mulai dilaksanakan pada pekan keempat Agustus atau awal September 2026. Witra optimistis seluruh anggaran TKD dapat terserap sepenuhnya sebelum akhir tahun. Bahkan, pihaknya menargetkan realisasi anggaran mencapai 100 persen pada Oktober mendatang, selama tidak terjadi kondisi di luar kendali seperti bencana atau keadaan kahar (force majeure).






