BeritaAgamBukittinggiNasionalPendidikanSumbar

Seminar Internasional Guru IMLF 2026, Kaban Bahasa Hafidz Muksin : Teknologi Selalu Berubah, tetapi Peran Guru sebagai Pendidik Tidak Tergantikan

×

Seminar Internasional Guru IMLF 2026, Kaban Bahasa Hafidz Muksin : Teknologi Selalu Berubah, tetapi Peran Guru sebagai Pendidik Tidak Tergantikan

Sebarkan artikel ini

BUKITTINGGI, hantaran.co – Teknologi selalu berubah, tetapi peran guru sebagai pendidik tidak akan pernah tergantikan. Pemanfaatan kecerdasan artifisial tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru. Guru tetap merupakan aktor sentral dalam pendidikan yang menentukan tujuan, proses, dan penilaian pembelajaran.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan (Kaban) Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia Hafidz Muksin ketika menjadi pembicara dalam Seminar Internasional Guru bertajuk “Peluang dan Tantangan Guru di Era AI” di Istana Bung Hatta Bukittinggi, Sabtu(6/6).

“Diharapkan guru-guru dapat mengarahkan murid dengan bijak, menggunakan teknologi dengan santun dan penuh etika, serta mewujudkan pembelajaran yang penuh makna,” ungkap Kaban Bahasa dalam seminar yang dihadiri guru se-Kota Bukittinggi serta menghadirkan narasumber dari berbagai negara.

Baca Juga  Nagari Sungai Duo Gelar Sosialisasi PKH

Ditambahkan Hafidz Muksin, ada beberapa peluang pemanfaatan kecerdasan artifisial bagi guru dalam pembelajaran. Diantaranya, membantu guru mencari ide, mengembangkan bahan ajar, membuat variasi teks dan gambar serta merancang asesmen awal pembelajaran.

“Kemudian, kecerdasan artifisial juga bisa dimanfaatkan guru untuk memberi umpan balik pembelajaran dan memperkaya sumber belajar yang akan berdampak pada peningkatan hasil belajar siswa yang akan terlihat dari hasil indeks asesmen nasional dan hasil tes kemampuan akademik siswa,” jelasnya dalam seminar internasional yang merupakan rangkaian Internasional Minangkabau Literacy Festival (IMLF) tahun 2026.

Kecerdasan artifisial terang Hafidz Muksin lebih lanjut, membawa banyak kemudahan. Namun juga menghadirkan tantangan serius bagi pendidikan. Diantaranya, meningkatkan peluang adanya plagiarism dan kecurangan akademik, penurunan keterampilan dasar, penurunan kemampuan berpikir kritis, penurunan kreativitas dalam mengajar, perubahan dinamika kelas kearah negatif dan berlebihnya informasi.

Baca Juga  Ini Pesan Presiden Jokowi untuk Sumbar Soal Lonjakan Kasus Covid-19 Saat PTM dan Tahun Baru

“Tantangan lainnya yang lebih berbahaya adalah ketergantungan atau kecanduan terhadap teknologi kecerdasan artifisial. Jika hal ini terjadi, sudah sama halnya dengan kecanduan alkohol dan kecanduan narkotika yang bahayanya luar biasa. Hati-hati,” ungkap Kaban Bahasa.

Guru yang literat digital kata Hafidz Muksin, bukan tergantikan oleh kecerdasan artifisial, tetapi semakin kuat bersamanya. Beberapa manfaat kecerdasan artifisial bagi guru yaitu, mampu menghemat waktu dan tenaga, ide lebih kreatif dan inovatif, pembelajaran lebih personal dan efektif dan pengambilan keputusan lebih tepat dan berdasarkan data.