BeritaBukittinggiSumbar

Keterbatasan Anggaran Hambat Translokasi Gajah Jidan

×

Keterbatasan Anggaran Hambat Translokasi Gajah Jidan

Sebarkan artikel ini

BUKITTINGGI, hantaran.co – Rencana translokasi gajah Sumatera bernama Jidan dari Taman Margasatwa dan Budaya Kinantan (TMSBK) Bukittinggi belum terealisasi. Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Barat menyebut keterbatasan anggaran menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemindahan satwa tersebut ke pusat latihan gajah.

Kepala BKSDA Sumatera Barat, Hartono, mengatakan pihaknya telah menyampaikan surat kepada Pemerintah Kota (Pemko) Bukittinggi terkait kondisi Jidan dan merekomendasikan agar gajah jantan tersebut segera ditranslokasi.

“Pada intinya kami sudah menyampaikan surat ke Pemko Bukittinggi. Terkait kondisi gajah Jidan, bukan serta-merta BKSDA tidak merespons. Kami telah melayangkan surat bahwa gajah Jidan tersebut perlu ditranslokasi. Namun, surat kami dibalas dengan ketidaksediaan anggaran,” kata Hartono kepada Haluan, Selasa (15/9/2026).

Menurutnya, perilaku liar Jidan yang kerap muncul diduga berkaitan dengan minimnya ruang gerak yang dimiliki gajah tersebut. Sebagai satwa liar, gajah membutuhkan ruang dan aktivitas fisik yang cukup untuk menjaga kondisi serta perilakunya.

Baca Juga  Lewat KSP, IPTI Sumbar Minta Presiden Jokowi Percepat Penetapan Syekh Sulaiman Arrasuli sebagai Pahlawan Nasional

“Untuk itu, Jidan perlu ditranslokasi ke pusat latihan gajah,” ujarnya.

Hartono menjelaskan, keterbatasan anggaran menjadi persoalan dalam merealisasikan translokasi tersebut. Meski demikian, BKSDA Sumbar tetap mendorong agar proses pemindahan Jidan dilakukan dengan memperhatikan aspek keselamatan satwa maupun petugas.

“Keterbatasan anggaran ini menjadi permasalahan. Bukan berarti kami harus melakukan translokasi. Ini merupakan kewajiban pihak TMSBK. Kami memfasilitasi dan menyarankan agar Jidan bisa dilakukan translokasi ke pusat latihan gajah, salah satunya di Minas,” jelasnya.

Terkait kebutuhan biaya translokasi, Hartono mengatakan pihaknya masih perlu berkoordinasi dengan pengelola pusat latihan gajah untuk mengetahui besaran anggaran yang diperlukan.

Selain itu, BKSDA Sumbar mengingatkan pentingnya konsistensi petugas atau mahout yang menangani Jidan. Pergantian mahout secara berulang dinilai tidak baik karena dapat memengaruhi penanganan dan perilaku gajah.

Baca Juga  Presiden Minta Panglima TNI dan Kapolri Kawal Penerapan PPKM Mikro

“Kami mengingatkan bahwa mahout tidak boleh berganti-ganti,” tegasnya.

Hartono menambahkan, BKSDA Sumbar bersama pihak TMSBK telah melakukan rapat untuk membahas langkah penanganan Jidan. Dalam waktu dekat, pihaknya akan melakukan evakuasi terhadap Jidan bersama pasangan gajahnya, Lia.

“Rencananya evakuasi gajah ini akan dilakukan ke Minas atau Medan. Jidan akan kita evakuasi bersama Lia, pasangannya,” katanya.

Sebelum evakuasi dilakukan, BKSDA Sumbar akan mendatangkan tim untuk melakukan survei dan mempelajari perilaku Jidan. Hasil survei tersebut akan menjadi dasar untuk menentukan metode evakuasi yang paling aman.

Tim nantinya akan menilai apakah proses evakuasi cukup dilakukan dengan menggunakan gajah jinak sebagai pendamping atau memerlukan tindakan pembiusan.

“Untuk evakuasi, kami akan mendatangkan tim untuk melakukan survei dan mengetahui perilaku Jidan. Apakah dibutuhkan gajah jinak atau tidak untuk evakuasi, serta apakah perlu dibius saat melakukan evakuasi,” ungkap Hartono.(*).