Secara geografis, Sumbar berada di jalur subduksi aktif Mentawai yang selama ini menjadi perhatian para ahli kebencanaan. Zona tersebut memiliki potensi memicu gempa berkekuatan besar yang dapat diikuti gelombang tsunami di wilayah pesisir.
“Ancaman megathrust harus dipandang sebagai ancaman terhadap ketahanan nasional karena dampaknya dapat memengaruhi sistem logistik, perekonomian, serta stabilitas sosial masyarakat,” kata Era.
Di sisi lain, kondisi topografi yang didominasi kawasan perbukitan serta tingginya curah hujan menyebabkan ancaman longsor dan banjir bandang juga terus menghantui sejumlah daerah di Sumbar setiap tahun.
Data BPBD Sumbar pada tahun 2025 mencatat sedikitnya 208 kejadian bencana terjadi di 19 kabupaten dan kota. Peristiwa tersebut didominasi kebakaran hutan dan lahan, banjir, serta tanah longsor yang menimbulkan kerugian bagi masyarakat.
Era menegaskan bahwa ancaman megathrust harus dipandang sebagai ancaman terhadap ketahanan nasional. Dampaknya tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga dapat mengganggu sistem logistik, aktivitas perekonomian, serta stabilitas sosial masyarakat.
Meski berbagai langkah telah dilakukan, masih terdapat sejumlah persoalan yang menjadi tantangan dalam pengurangan risiko bencana. Salah satunya adalah belum optimalnya integrasi mitigasi bencana dalam perencanaan pembangunan di berbagai sektor.
Selain itu, koordinasi lintas sektor dinilai masih perlu diperkuat agar penanganan bencana dapat berlangsung lebih efektif. Keterbatasan kapasitas sumber daya manusia dan sarana-prasarana juga menjadi hambatan yang harus segera diatasi.






