BUKITTINGGI, hantaran.co – Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi meresmikan kembali operasional Asrama Putri SMAN 1 Bukittinggi, Sabtu (18/7/2026).
Pengaktifan kembali asrama yang sempat vakum sejak 2019 itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pendidikan karakter, kedisiplinan, dan kualitas lulusan sekolah unggulan tersebut.
Peresmian berlangsung di kompleks SMAN 1 Bukittinggi dan dihadiri mantan Anggota DPRD Sumbar Aristo Munandar, Kepala Bappeda Sumbar, Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Direktur RSAM, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I Sumbar, Ketua Komite, serta Dewan Penasehat IASMA 1 Landbouw.
Dalam sambutannya, Mahyeldi mengatakan sistem pendidikan berasrama telah terbukti melahirkan generasi yang lebih disiplin, mandiri, dan berkarakter.
Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh proses belajar di ruang kelas, tetapi juga pembinaan kehidupan sehari-hari di lingkungan asrama.
Ia mencontohkan, pada masa lalu sekolah pendidikan guru (SPG) maupun Pendidikan Guru Agama (PGA) menerapkan sistem berasrama dan menghasilkan lulusan yang memiliki karakter kuat.
“Di asrama siswa dibina selama 24 jam. Disiplin, tanggung jawab, kemandirian, hingga kepemimpinan tumbuh melalui kebiasaan sehari-hari. Karena itu, asrama menjadi salah satu kunci keberhasilan pendidikan,” ujar Mahyeldi.
Menurutnya, perhatian pemerintah terhadap pendidikan berasrama juga terlihat dari kebijakan Presiden RI Prabowo Subianto yang mengembangkan Sekolah Rakyat dan Sekolah Garuda dengan konsep boarding school.
“Negara-negara maju juga banyak menerapkan sekolah berasrama. Kita berharap SMAN 1 Bukittinggi mampu melahirkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan siap bersaing di perguruan tinggi terbaik, baik di dalam maupun luar negeri,” katanya.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Bukittinggi, M. Hernandar, S.Pd., M.Si menjelaskan bangunan asrama tersebut dibangun pada 2014 melalui dana Pokok Pikiran (Pokir) Anggota DPRD Sumbar saat itu, Aristo Munandar. Pada tahun yang sama, sekolah juga memperoleh bantuan hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI untuk penyelenggaraan pendidikan bagi siswa dari daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Program tersebut berjalan hingga 2019 sebelum akhirnya berhenti akibat berakhirnya bantuan pemerintah pusat. Sejak saat itu, bangunan asrama tidak lagi dimanfaatkan secara optimal.
Hernandar yang baru sekitar empat bulan memimpin SMAN 1 Bukittinggi kemudian menggagas pengaktifan kembali asrama. Pengalaman memimpin SMA Cendekia Maninjau yang menerapkan sistem boarding school menjadi modal untuk menghidupkan kembali program tersebut.
Saat ini asrama memiliki kapasitas 30 siswi. Dari sekitar 1.200 siswa SMAN 1 Bukittinggi, sebanyak 16 siswi telah menghuni asrama dan menjadi angkatan perdana sejak program ini kembali dijalankan.
Pihak sekolah berharap keberadaan asrama tidak hanya menjadi fasilitas tempat tinggal, tetapi juga pusat pembinaan karakter, prestasi akademik, dan kepemimpinan sehingga mampu memperkuat posisi SMAN 1 Bukittinggi sebagai salah satu sekolah unggulan di Sumatera Barat.(*).












