Lebaran di Ranah Minang selalu menghadirkan dua hal yang datang bersamaan, suasana haru pertemuan dan panjangnya antrean kendaraan. Jika tak macet, justru terasa ada yang kurang. Kalau tak macet, tak hari raya namanya, begitu benarlah.
Dalam satu dekade terakhir, macet Lebaran seolah telah menjadi tradisi baru yang tak tertulis di Sumatera Barat. Dari Padang menuju Bukittinggi, Payakumbuh hingga Solok, arus kendaraan memadati jalan-jalan utama, bahkan sejak H+1 hingga sepekan setelah Idulfitri.
Baca Juga : Penumpang KA Pariaman Ekspres Tembus 158 Persen
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Ranah Minang memiliki karakter sosial yang khas, yakni budaya merantau. Lebaran menjadi momentum sakral bagi para perantau untuk pulang kampung. Mereka datang dari berbagai kota besar di Indonesia, bahkan dari luar negeri.
Pada saat yang sama, masyarakat lokal juga memanfaatkan libur panjang untuk bersilaturahmi sekaligus berwisata. Dua arus besar ini bertemu di jalan yang sama, di ruang geografis yang terbatas, dengan kondisi jalan yang sebagian besar berkelok dan berada di kawasan perbukitan.
Dalam sepuluh tahun terakhir, pola kemacetan Lebaran di Sumatera Barat hampir tidak berubah. Jalur Padang–Bukittinggi tetap menjadi urat nadi yang paling padat. Kawasan Lembah Anai, Padang Panjang, hingga Simpang Padang Lua selalu menjadi titik perlambatan kendaraan.
Bahkan, tak jarang kendaraan hanya mampu bergerak beberapa kilometer dalam waktu berjam-jam. Kondisi ini terjadi berulang setiap tahun, seolah menjadi agenda tahunan yang sudah dapat diprediksi.
Di Kota Padang, kemacetan biasanya mulai terlihat di jalur keluar kota seperti Lubuk Begalung menuju Indarung hingga Sitinjau Lauik. Jalur ekstrem yang menghubungkan Padang dengan Solok itu sering menjadi titik rawan, terutama ketika kendaraan luar kota yang tak paham medan gagal menanjak. Selain itu, kawasan wisata Pantai Padang dan Pantai Air Manis juga menjadi magnet keramaian, yang memperparah kepadatan lalu lintas saat Lebaran.












