Oleh : Prima Delfrianti
Guru Mata Pelajaran Keminangkabauan SMAS Baiturrahmah Padang
Ketika berbicara tentang Minangkabau, ada pertanyaan reflektif yang perlu kita munculkan ke hadapan publik saat ini terkait sejauh mana kebudayaan Minangkabau dikenal atau diaktualisasikan ke dalam aktivitas sehari-hari oleh generasi muda. Jawaban atas pertanyaan tersebut setidaknya dapat kita peroleh dari klaim Wa’fini dkk bahwa “generasi muda mulai kehilangan minat terhadap seni daerah karena lebih tertarik pada budaya populer dan hiburan modern” (Wa’fini dkk, 2025). Meskipun penelitian tersebut dilakukan pada locus tertentu, namun dapat menjadi penguat dari apa yang saya amati di lingkungan sehari-hari yang dalam hal ini juga menunjukkan bahwa jati diri Keminangkabauan mulai pudar pada sebagian generasi muda.
Padahal jika kita telisik lebih dalam, budaya Minangkabau sarat dengan muatan nilai religius, moral, estetika, dan menawarkan keuntungan finansial jika benar-benar menggelutinya. Setelah membelajarkan mata pelajaran muatan lokal Keminangkabauan di SMAS Baiturrahmah Padang, tulisan ini bagian desiminasi atas upaya yang telah dilakukan dalam menghidupkan dan melestarikan budaya Minangkabau yang perlahan memudar di lingkungan sebagian generasi muda kita.
Menghidupkan Kebudayaan
Landasan hukum mata pelajaran Muatan Lokal Keminangkabauan tertuang dalam Perda Provinsi Sumatera Barat No.2 Tahun 2019 Pasal 91 yang mengamanatkan secara tegas bahwa Kurikulum Muatan Lokal sebagai bagian tidak terpisahkan dalam penyelenggaraan pendidikan di Sumatera Barat. Sementara berdasarkan Pergub No.36/2022 Pasal 7, pelajaran muatan lokal wajib bagi SMA, SMK, dan SLB yang ada di Sumatera Barat.
Pada 3 September 2026 di edotel Bundo Kanduang SMKN 9 Padang, Kepala Dinas Provinsi Sumatera Barat, Habibul Fuadi, menyampaikan arahannya tentang Kebijakan dan Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Keminangkabauan ke berbagai guru dari berbagai sekolah. Dalam sesi diskusi tersebut, kegiatan juga dilengkapi dengan pelatihan menyusun modul/Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Menengah (SMA dan SMK).
Tindak lanjut pasca kegiatan tersebut, setiap audiens harapannya berupaya mewujudkan praktik terbaik di sekolah tempat mereka bertugas. Saya sebagai guru pengampu mata ajar Muatan Lokal Keminangkabauan di SMAS Baiturrahmah Padang telah mengimplementasikan bahwa pelaksanaan pembelajaran muatan lokal ini diikuti secara antusias oleh murid. Sekolah swasta yang memberi hak pendidikan tanpa adanya biaya administratif (gratis) ini, terbukti memiliki murid yang potensial, boleh jadi juga mampu berkompetisi atau berkolaborasi dengan murid dari sekolah lain.
Jika dilihat dari segi teknis, program Keminangkabauan dapat diwujudkan melalui dua metode. Pertama ditempuh secara kolaboratif guru lintas mata pelajaran, kedua menyisihkan waktu dengan durasi tertentu untuk mengajar didikkan tentang Keminangkabauan. Kedua langkah teknis tersebut di wujudkan di SMAS Baiturrahmah, terkhusus setiap Kamis, sekolah menyediakan waktu 30 menit sebelum jam pelajaran pertama. Ini menjadi momen penting dalam mengokohkan nilai Keminangkabauan di lingkungan murid. Sejumlah kegiatan ditampilkan dengan bahasa Minang seperti MC, tilawah, penyampaian Hikayat, petatah-petitih, lagu bernuansa Minangkabau, kesenian Talempong Pacik, dan ditutup dengan pembacaan do’a yang juga berbahasa Minang.






