Bukittinggi sebagai kota wisata utama juga tak luput dari kemacetan. Simpang Padang Lua dan Simpang Biaro hampir selalu menjadi titik pertemuan kendaraan dari berbagai arah. Arus kendaraan dari Padang, Payakumbuh, dan Agam bertemu dalam satu kawasan yang relatif sempit. Ditambah lagi kepadatan di pusat kota seperti Jam Gadang dan Ngarai Sianok, kemacetan menjadi sulit dihindari.
Sementara itu, di wilayah Payakumbuh dan Limapuluh Kota, Kelok Sembilan dan Lembah Harau menjadi tujuan favorit wisatawan. Jalan yang berkelok dan kapasitas terbatas membuat kendaraan mengular panjang. Jalur Payakumbuh menuju Bukittinggi juga sering mengalami kepadatan, terutama ketika arus wisata meningkat pada hari kedua dan ketiga Lebaran.
Di Solok, jalur Sitinjau Lauik, Lubuk Selasih, hingga kawasan Danau Singkarak dan Alahan Panjang menjadi titik rawan macet yang hampir selalu berulang setiap tahun. Keindahan panorama alam yang menjadi daya tarik wisata justru berbanding lurus dengan tingginya volume kendaraan yang masuk ke kawasan tersebut.
Jika ditarik lebih dalam, fenomena ini juga mencerminkan dinamika sosial budaya masyarakat Minangkabau. Budaya “pulang basamo” yang kuat menjadikan Lebaran sebagai momentum berkumpulnya keluarga besar. Rumah gadang yang biasanya lengang, mendadak penuh oleh sanak saudara dari berbagai daerah.
Setelah bersilaturahmi, tradisi berikutnya adalah “pai rayo”, mengunjungi objek wisata bersama keluarga besar sembari membuat momen-momen indah yang jarang terjadi. Di sinilah jalan-jalan utama Ranah Minang berubah menjadi lautan kendaraan. Mobil hingga sepeda motor berbagai jenis, semuanya tumpah ruah di sepanjang ruas jalan.
Musim Libur Lebaran Menjadi Berkah
Kondisi ini kerap membuat petugas kewalahan bahkan cenderung tak berdaya saat melakukan langkah antisipatif. Keterbatasan personil dan volume kendaraan yang luar biasa menjadi penyebabnya.
Namun di balik kemacetan itu, ada denyut ekonomi yang bergerak cepat. Musim libur Lebaran menjadi berkah bagi masyarakat lokal. Pedagang kaki lima, rumah makan, penginapan, hingga pelaku usaha kecil di kawasan wisata menikmati lonjakan pengunjung. Perputaran uang meningkat drastis dalam waktu singkat. Bahkan, tak sedikit masyarakat yang mengandalkan momen Lebaran sebagai puncak pendapatan tahunan mereka.












