Warung di sepanjang jalur wisata penuh, parkir kendaraan dikelola warga, penjual oleh-oleh ramai diserbu pembeli, hingga jasa transportasi lokal ikut merasakan dampaknya. Kemacetan yang sering dikeluhkan, pada sisi lain justru menjadi indikator hidupnya ekonomi masyarakat. Semakin padat jalanan, semakin besar pula perputaran uang yang terjadi di daerah tujuan wisata.
Macet Lebaran di Sumatera Barat akhirnya bukan sekadar persoalan lalu lintas, tetapi juga cerminan denyut kehidupan sosial masyarakat Minangkabau. Jalan yang padat menandakan kampung halaman kembali menyala. Warung ramai, objek wisata penuh, dan ekonomi bergerak.
Namun di sisi lain, kondisi ini juga menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur belum sepenuhnya mampu mengimbangi pertumbuhan kendaraan dan mobilitas masyarakat.
Lebaran akan terus datang setiap tahun. Perantau akan terus pulang. Tradisi pulang basamo akan tetap terjaga. Maka selama itu pula, kemacetan tampaknya masih akan menjadi bagian dari cerita Lebaran di Ranah Minang. Sebuah tradisi yang lahir dari perpaduan budaya merantau, silaturahmi, dan kecintaan pada kampung halaman.
Di Ranah Minang, macet Lebaran bukan sekadar kepadatan kendaraan. Ia adalah tanda bahwa kampung masih dirindu, dan pulang tetap menjadi perjalanan yang selalu dinanti. (*)
Oleh:
Wandi Malin
Wartawan Haluan












