Sumbar

Tim PPUB UNP Dorong Museum Mohammad Sjafei Menjadi Smart Museum Tangguh Bencana

×

Tim PPUB UNP Dorong Museum Mohammad Sjafei Menjadi Smart Museum Tangguh Bencana

Sebarkan artikel ini

Filosofi pendidikan Mohammad Sjafei dirangkum dalam ungkapan “hati berkata, otak berpikir, dan tangan bekerja.” Filosofi tersebut mengintegrasikan pendidikan hati, kemampuan berpikir, dan keterampilan praktis. Pendidikan hati dikembangkan melalui agama, seni, dan olahraga, sedangkan pendidikan pikiran diarahkan pada kemampuan berpikir mandiri. Pendidikan tangan diwujudkan melalui keterampilan dan pengalaman kerja nyata.
Menurut Ibu Evi, pola pendidikan tersebut menjadi ciri khas INS Kayutanam yang menyatukan hati, pikiran, dan tindakan. Ia berharap cita-cita Mohammad Sjafei dapat terus dilanjutkan agar INS kembali berkembang dan memperoleh kepercayaan masyarakat sebagaimana pada masa kejayaannya.

Ade Novalia, M.Pd. menjelaskan bahwa pengembangan bangunan Museum Mohammad Sjafei mulai mendapatkan perhatian lebih luas pada 2025, termasuk setelah adanya kunjungan Menteri Kebudayaan. Namun, ia menegaskan bahwa museum tidak hanya terbatas pada bangunan yang digunakan untuk memajang foto dan koleksi.

Baca Juga  Gubernur Sumbar Minta Akses SIPUHH PHAT Dicabut, DPRD Pessel Dukung Penuh

“Bangunan ini merupakan pusat pajangan dan informasi. Akan tetapi, keseluruhan kawasan INS Kayutanam sebenarnya merupakan bagian dari Museum Mohammad Sjafei. Di setiap sudut kawasan terdapat jejak pendidikan, karya, aktivitas, dan pemikiran beliau,” jelas Ade.

Dalam forum tersebut, pengelola menyampaikan bahwa kawasan INS Kayutanam memiliki luas sekitar 18 hektare. Bangunan museum berfungsi sebagai simbol dan pusat penyajian koleksi, sedangkan keseluruhan kawasan merupakan ruang sejarah yang memperlihatkan penerapan gagasan pendidikan Mohammad Sjafei.

Baca Juga  Ramadan Berbagi di RSUD M. Zein Painan, Lisda Hendrajoni dan Green Generation Tebar Kepedulian untuk Pasien

Selain menjadi tokoh pendidikan, Mohammad Sjafei juga dikenal sebagai penulis dan pencipta lagu “Indonesia Subur.” Pengelola museum menyampaikan bahwa bentuk irama lagu yang beredar saat ini diduga telah mengalami perubahan dari komposisi awalnya. Oleh sebab itu, tim dan pihak museum berencana melakukan penelusuran terhadap notasi, oktaf, atau rekaman yang dapat membantu merekonstruksi bentuk asli lagu tersebut.
Koleksi lain yang menjadi perhatian meliputi buku-buku yang ditulis Mohammad Sjafei, foto keluarga, dokumentasi kegiatan pendidikan, diorama, lukisan, instrumen musik, naskah perjuangan, serta dokumen penghargaan. Mohammad Sjafei juga diketahui menerima Bintang Mahaputera Adipradana sebagai bentuk penghargaan negara atas jasa-jasanya.