Ketua tim pengabdian, Dr. Hendra Naldi, menyampaikan bahwa diskusi awal memperlihatkan masih terbukanya ruang penelitian yang luas mengenai kehidupan dan pemikiran Mohammad Sjafei. Menurutnya, penelitian mengenai biografi Mohammad Sjafei secara menyeluruh masih terbatas, padahal tokoh tersebut memiliki kontribusi besar dalam sejarah pendidikan nasional.
“Setelah ditelusuri, ternyata belum banyak penelitian yang mengkaji biografi Mohammad Sjafei secara menyeluruh. Ke depan, hal ini juga dapat menjadi agenda penelitian, sehingga informasi mengenai kehidupan, perjuangan, dan pemikirannya dapat disusun berdasarkan sumber yang lebih lengkap dan akurat,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa pengembangan museum tidak cukup hanya memperbaiki ruang pamer. Museum harus dipersiapkan menghadapi potensi bencana melalui penataan ulang lokasi arsip, pemilihan tempat penyimpanan yang lebih aman, digitalisasi dokumen, dan penyusunan langkah-langkah preventif sebelum bencana terjadi.
“Wilayah ini memiliki kerawanan terhadap banjir galodo dan longsor. Karena itu, museum harus disiapkan menjadi museum yang tangguh bencana. Penempatan arsip perlu ditata ulang dan dilengkapi dengan langkah mitigasi agar koleksi tidak hilang ketika terjadi keadaan darurat,” jelasnya.
Selain pelindungan koleksi, tim juga memperoleh informasi mengenai sejumlah dokumen penting Mohammad Sjafei yang belum ditemukan. Salah satunya adalah dokumen penganugerahan gelar doktor honoris causa yang disebut memiliki hubungan dengan Universitas Negeri Padang atau institusi pendahulunya. Dr. Hendra Naldi menyatakan akan mencoba menelusuri keberadaan dokumen tersebut melalui arsip UNP.
Dalam diskusi, Evi juga menceritakan pola pendidikan karakter yang diterapkan ayahnya. Menurutnya, Mohammad Sjafei mendidik anak dan murid melalui kegiatan bermain, pendekatan emosional, serta pengalaman langsung. Cara tersebut membuat pesan pendidikan lebih mudah dipahami dan tetap diingat hingga bertahun-tahun.
“Ayah mendidik dengan bermain dan menggunakan hati. Apa yang disampaikannya menjadi lebih mudah diingat. Sampai sekarang, ketika usia saya sudah 68 tahun, saya masih mengingat pesan-pesan beliau,” ungkapnya.






