Distribusi barang pun ikut tersendat. Sejumlah sopir mengaku jadwal pengiriman menjadi kacau karena harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mendapatkan Solar subsidi.
Akibatnya, ongkos angkut meningkat dan berdampak langsung terhadap harga kebutuhan pokok di pasaran.
Kelangkaan Solar kini bukan lagi sekadar persoalan antrean BBM. Ia mulai menyentuh denyut ekonomi masyarakat kecil.
Di kawasan pesisir, nelayan mulai dihantui kekhawatiran tidak bisa melaut jika pasokan Solar terus terganggu. Sebab bagi mereka, BBM adalah urat nadi aktivitas mencari ikan.
“Kalau Solar susah, kami tidak bisa melaut. Pendapatan otomatis hilang,” ucap seorang nelayan di Kecamatan Sutera, Pesisir Selatan.
Hal serupa dirasakan petani dan pedagang kecil. Distribusi hasil panen hingga kebutuhan pokok ikut terganggu karena kendaraan pengangkut kesulitan memperoleh BBM. Rantai distribusi yang tersendat perlahan memicu kenaikan biaya di tingkat bawah.
Ironisnya, persoalan ini bukan pertama kali terjadi.






