Oleh: Okis Mardiansyah (Wartawan Haluan)
Deru mesin truk terdengar berat memecah pagi di sebuah SPBU di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Matahari bahkan belum sepenuhnya meninggi, tetapi antrean kendaraan sudah memanjang hingga ke badan jalan. Truk-truk besar, mobil pikap, hingga kendaraan angkutan lain berjejer tanpa kepastian kapan giliran mereka tiba.
Sebagian sopir memilih turun dari kendaraan. Ada yang duduk di bangku kayu warung kecil dekat SPBU sambil menyeruput kopi hitam, ada pula yang merebahkan badan di kabin truk karena semalaman menunggu antrean.
Sesekali mata mereka tertuju ke mesin pengisian BBM yang terus dipenuhi kendaraan.
“Kalau datang terlambat sedikit saja, bisa tidak kebagian Solar,” ujar seorang sopir truk lintas provinsi dengan nada lelah.
Pemandangan seperti itu belakangan menjadi hal lumrah di sejumlah daerah di Sumatera Barat. Kelangkaan BBM jenis Solar subsidi kembali memicu antrean panjang di berbagai SPBU. Kondisi tersebut perlahan menimbulkan keresahan masyarakat, terutama mereka yang menggantungkan hidup pada kendaraan operasional.
Bagi para sopir angkutan barang, waktu yang habis di antrean berarti hilangnya penghasilan. Mereka tidak hanya kehilangan kesempatan mengangkut barang, tetapi juga harus menanggung biaya operasional yang terus berjalan.
Semakin lama kendaraan berhenti, semakin besar pula kerugian yang dirasakan.






