Untuk mendukung sikapnya itu, AS lewat CIA membantu para pembangkang di daerah dengan senjata, pelatihan, dan dukungan logistik secara rahasia, dan kebijakannya itu pada akhirnya menyulut perang saudara yang dahsyat di Indonesia. Arah dan tujuan AS saat itu adalah membendung ekspansi komunisme dengan mendukung suatu pemerintahan yang antikomunis, walaupun dalam kondisi “Indonesia yang dipecah.”
Tentu jika dicermati lebih jauh, keterlibatan CIA dalam PRRI/ Permesta saat itu sungguh mengancam kesatuan Indonesia, sekalipun para pembangkang di Sumatera memiliki keengganan untuk mempertimbangkan pemisahan wilayah itu dari bagian lain di Indonesia (Kahin & Kahin, 1997:94).
Sejarah menunjukkan, operasi rahasia AS itu mengalami kegagalan. Pasukan Jenderal Nasution yang mengetahui intervensi negara adidaya itu ternyata dengan relatif cepat berhasil mematahkan perlawanan PRRI di beberapa titik krusial di Sumatera, termasuk Riau, daerah di mana AS memiliki ladang minyak yang strategis.
Pukulan terhadap PRRI/Permesta itu tak hanya menaikkan pamor Soekarno dan militer di bawah Nasution, tetapi di sisi lain menyebabkan buyarnya keyakinan AS terhadap kekuatan “pemberontak.” Menyadari bahwa kegagalan dini misi rahasia tersebut telah menyebabkan memburuknya hubungan Washington dan Jakarta, AS segera memutar haluan: “memulihkan” kebijakannya terhadap pemerintahan Soekarno.
Uraian di atas menunjukkan pasang surut relasi Indonesia-AS pada dekade-dekade awal pascakemerdekaan sangat dipengaruhi geopolitik Perang Dingin, di mana AS menjadi salah satu kekuatan utamanya saat itu. Sebagai “kampiun” dari kubu negara-negara kapitalis dan “demokrasi liberal,” AS berkepentingan sangat dalam membendung pengaruh kubu lawannya, yakni negara-negara komunis, sekalipun upaya itu tidak selalu berhasil. (*)
Oleh:
Israr Iskandar
Dosen Sejarah Universitas Andalas






