“Yang harus kita dorong bukan hanya penyediaan benih, tetapi juga teknologi pertanian, peningkatan mutu, dan kolaborasi semua pihak. Dengan lahan yang terbatas, kita ingin hasil pertanian terus meningkat sehingga semakin menyejahterakan petani,” ujarnya.
Fadly juga mengingatkan pentingnya menjaga keberadaan lahan pertanian dari alih fungsi serta mendorong pemanfaatan teknologi agar sektor pertanian semakin diminati generasi muda. Menurutnya, petani milenial akan menjadi salah satu kunci keberlanjutan pembangunan pertanian di Kota Padang.
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian Kota Padang, Yoice Yuliani, mengatakan Program Padang Mandiri Benih Padi merupakan implementasi RPJMD Kota Padang 2025–2030. Program ini hadir sebagai respons atas berkurangnya luas baku sawah di Kota Padang dari 5.216 hektare pada 2019 menjadi 4.358 hektare pada 2024, serta masih tingginya penggunaan benih yang belum bersertifikat.
Ia menjelaskan, Pemko Padang menargetkan seluruh kebutuhan benih padi bersertifikat dapat dipenuhi oleh penangkar lokal. Program tersebut akan terus dilaksanakan hingga 2030, dengan target pada 2029 seluruh lahan sawah di Kota Padang telah menggunakan benih padi bersertifikat hasil produksi penangkar lokal.
“Kita berkomitmen untuk terus meningkatkan kapasitas produksi penangkar, memperluas kelompok tani penerima manfaat, serta memperkuat dukungan anggaran agar kemandirian benih padi di Kota Padang dapat terwujud secara berkelanjutan,” ujar Yoice.
Peluncuran Program Padang Mandiri Benih Padi turut dihadiri Tokoh Pertanian Sumatera Barat Prof. James Hellyward, perwakilan Balai Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP), perwakilan Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Sumatera Barat, perwakilan UPTD Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Provinsi Sumatera Barat, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kota Padang Didi Aryadi, Camat Koto Tangah Rio Ebu Pratama, sejumlah kepala OPD di lingkungan Pemko Padang, serta kelompok tani penerima bantuan.






