Rentetan kegiatan tersebut sejatinya menegaskan bahwa tanggung jawab akademik institusi sekolah tak sekadar memberikan pengalaman belajar kepada murid untuk membangun karakter dan mengasah intelektualitas mereka. Sebagai lembaga pendidikan, pendidik di sekolah bertanggung jawab mengembangkan kompetensi murid, dan juga menjadi fasilitator dalam menyalurkan minat dan bakat mereka. Ketika laju perkembangan teknologi kian melesat kencang, maka pertanyaan yang muncul bukan sekadar tentang bagaimana murid dapat beradaptasi dengan teknologi tersebut. Bukan semata bagaimana murid dapat menggunakannya secara bijak dan tepat.
Melainkan juga perlu merambah ke aspek bagaimana peran sekolah mengenalkan dan menghidupkan budaya lokal (Minangkabau) di tengah kemajuan teknologi yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan murid. Mengingat kondisi demikian maka mata pelajaran Keminangkabauan menjadi semakin penting sebagai jembatan penghubung untuk melestarikan warisan leluhur Minang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yang Dimulai Perlu Dipertahankan
Kajian Rohisfi memerinci beberapa karakteristik yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Minangkabau yang dalam hal ini meliputi sistem materilineal, Islam, merantau serta petatah-petitih (Rohisfi, 2022). Dalam sesi pemaparan/pelatihan penyusunan kurikulum muatan lokal Keminangkabauan di edotel Bundo Kanduang SMKN 9 Padang, Pakar Sastra Minangkabau Universitas Andalas Satya Gayatri menegaskan bahwa yang terpenting dikembangkan bukan sekadar “apa budayanya”, tetapi “apa yang dapat dipelajari dari budaya itu”?
Menengok posisi strategis mata pelajaran Keminangkabauan sebagai pelajaran wajib lokal di SMA, di titik ini lah SMAS Baiturahmah berupaya meningkatkan kolaborasi lintas guru mapel, ahli di bidang budaya Minangkabau, dan pihak yang menjalankan peran relevan lainnya sebagai penopang lancarnya kegiatan yang telah direncanakan.
Aktivitas yang telah dilakukan SMAS Baiturrahmah seperti penyampaian tilawah, Hikayat, petatah-petitih, lagu bernuansa Minangkabau, kesenian Talempong Pacik, dan ditutup dengan pembacaan do’a berbahasa Minang. Sejatinya juga sejalan dengan tiga tujuan strategis kebijakan daerah sebagaimana dipresentasikan Kepala Dinas Sumatera Barat dalam sesi diskusi tentang mata pelajaran muatan lokal Keminangkabauan di SMKN 9 Padang pada 3 September lalu.






