Beruntung, akses menuju lokasi terdampak tidak terputus total sehingga distribusi obat-obatan maupun mobilitas tenaga kesehatan masih dapat dilakukan tanpa kendala berarti.
Tak hanya kesehatan fisik, pemulihan kondisi mental para penyintas juga menjadi perhatian. Tim psikolog diterjunkan untuk memberikan layanan trauma healing, terutama kepada anak-anak, lansia, dan ibu hamil yang menjadi kelompok paling rentan mengalami tekanan psikologis setelah bencana.
Penanganan kesehatan di lokasi bencana juga tidak dilakukan sendiri. Dinas Kesehatan membangun koordinasi intensif bersama BPBD, rumah sakit, puskesmas, TNI, Polri, serta berbagai unsur lainnya melalui posko terpadu sehingga setiap persoalan yang muncul dapat segera ditangani.
Meski demikian, masih terdapat tantangan yang harus dibenahi. Salah satunya adalah peningkatan kapasitas sumber daya manusia bidang kesehatan dalam penanganan kebencanaan. Menurut dr. Budi Andri, belum seluruh tenaga kesehatan di puskesmas memiliki kompetensi yang merata dalam menghadapi situasi darurat sehingga peningkatan kemampuan menjadi agenda penting ke depan.
Selain memperkuat layanan kesehatan, Dinas Kesehatan juga terus mengedukasi masyarakat agar tetap menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) selama berada di pengungsian. Masyarakat diminta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala penyakit agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.
Bupati Lima Puluh Kota, Safni Sikumbang, menegaskan bahwa perlindungan kesehatan masyarakat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan bencana. Menurutnya, pemerintah daerah berkomitmen memastikan seluruh korban tetap memperoleh pelayanan kesehatan yang layak, mulai dari layanan medis, ketersediaan obat-obatan, hingga pendampingan bagi kelompok rentan.
“Keselamatan dan kesehatan masyarakat adalah prioritas kami. Seluruh perangkat daerah bergerak bersama memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan dengan baik bagi seluruh masyarakat terdampak,” kata Safni.
Ia juga mengapresiasi dedikasi para tenaga kesehatan yang tetap bertugas di tengah situasi darurat. Baginya, kehadiran tenaga medis bukan sekadar memberikan pengobatan, tetapi juga menjaga harapan masyarakat yang sedang berjuang bangkit dari bencana.






