Payakumbuh

Kartini Masa Kini di Payakumbuh, Eni Zulmaeta: Dari Sampah, Perempuan Bangun Kemandirian Ekonomi

×

Kartini Masa Kini di Payakumbuh, Eni Zulmaeta: Dari Sampah, Perempuan Bangun Kemandirian Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Kartini

PAYAKUMBUH, HANTARAN.CO — Peringatan Hari Kartini di Kota Payakumbuh tahun ini menghadirkan makna yang lebih membumi. Bagi Ketua TP PKK Kota Payakumbuh, Eni Muis Zulmaeta, perjuangan perempuan masa kini tidak hanya tentang emansipasi, tetapi bagaimana menghadirkan kemandirian ekonomi dari hal-hal sederhana bahkan dari sampah.

“Sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tapi peluang. Kalau dikelola dengan baik, ia bisa melahirkan nilai ekonomi,” ujar Eni saat ditemui di kediamannya, Selasa (21/4/2026).

Di tangan perempuan-perempuan kreatif Payakumbuh, limbah yang sebelumnya dianggap tidak bernilai kini bertransformasi menjadi produk yang memiliki nilai guna sekaligus nilai jual. Gerakan ini tidak hanya membantu mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga membuka sumber penghasilan baru bagi keluarga.

Menurut Eni, langkah pemberdayaan tersebut harus terus diperkuat melalui peningkatan kualitas produk dan perluasan pasar. “Yang sudah ada harus kita maksimalkan. Produksi ditingkatkan, kualitas dijaga dan jangkauan pemasaran diperluas,” katanya.

Salah satu inovasi yang kini berkembang adalah pengolahan sampah organik menjadi budidaya maggot di kawasan Mancang Labu, Kelurahan Payobasung, Payakumbuh Timur. Tidak sekadar menghasilkan kompos, larva maggot dimanfaatkan sebagai pakan alternatif bagi ternak unggas.

“Biasanya hanya berhenti di kompos. Tapi di sini, kita manfaatkan juga sebagai pakan ayam yang lebih ekonomis dan bergizi,” jelasnya.

Baca Juga  Siswa SDN 18 Kampung Lapai Sulap Sampah Jadi Celengan

Ia menuturkan, biaya pakan selama ini menjadi beban terbesar bagi peternak kecil, mencapai 60 hingga 70 persen dari total biaya operasional. Dengan pemanfaatan maggot, keluarga dapat menekan biaya sekaligus membuka peluang usaha peternakan mandiri.

“Dari satu kegiatan, bisa lahir banyak manfaat. Lingkungan bersih, ekonomi bergerak, dan masyarakat lebih mandiri,” ujarnya.

Selain sampah organik, pengolahan limbah anorganik juga dikembangkan menjadi produk seperti paving blok. Inovasi ini dinilai mampu mengurangi volume sampah sekaligus menciptakan peluang usaha baru di tengah masyarakat.

Di sektor lain, pemberdayaan perempuan juga diperkuat melalui UMKM kerajinan rajut. Melalui kelompok dasawisma, perempuan dilatih menghasilkan berbagai produk seperti tas, dompet, hingga pakaian.

Upaya ini bahkan telah menembus pasar internasional melalui kerja sama dengan The Sak, sebuah brand fesyen asal Amerika Serikat yang dikenal mengangkat kerajinan tangan tradisional. Sejak 2025, kerja sama tersebut menargetkan produksi hingga 1.000 pouch per bulan.

“Alhamdulillah, beberapa pengrajin sudah meraih omzet hingga puluhan juta rupiah, dan produknya mulai merambah mancanegara,” kata Eni.

Baca Juga  Pemko Payakumbuh Sampaikan Isu Strategis di Rakor Bersama Pemprov Sumbar

Bagi Eni, semangat Raden Ajeng Kartini hari ini menemukan bentuknya dalam kerja nyata. Dari rumah tangga sederhana, perempuan mampu membangun usaha, menggerakkan ekonomi, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri.

Rantai ekonomi yang terbentuk mulai dari pengolahan sampah, budidaya maggot, peternakan, hingga kerajinan, menciptakan efek berkelanjutan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Ia optimistis, jika dikelola secara konsisten, Payakumbuh berpotensi menjadi salah satu daerah pemasok kebutuhan ayam di wilayah sekitarnya. Namun lebih dari itu, yang terpenting adalah membangun kesadaran bahwa perubahan bisa dimulai dari hal kecil.

“Perempuan tidak boleh hanya jadi penonton perubahan. Kita harus jadi penggerak, mengubah yang sederhana menjadi bernilai, menghidupkan yang terabaikan menjadi kekuatan,” tegasnya.

Di Payakumbuh, makna itu kini nyata. Dari sampah yang diolah, benang yang dirajut, hingga langkah kecil di ruang domestik, semuanya bergerak menuju satu tujuan: kemandirian.

Seperti semangat Kartini yang tak lekang oleh waktu, perempuan-perempuan Payakumbuh hari ini memilih untuk tidak hanya bermimpi, tetapi juga bergerak dan menciptakan perubahan.

“Dari hal yang sering diabaikan, kita belajar memberi makna. Dari tangan yang tulus bekerja, perubahan perlahan menemukan jalannya,” pungkasnya. (*)