Ia menjelaskan, Jam Gadang yang dibangun pada tahun 1926 merupakan salah satu ikon bersejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Bukittinggi dan Sumatera Barat.
“Jam seperti ini hanya ada dua di dunia, satunya lagi berada di Big Ben, London. Walaupun Sumatera Barat rawan gempa, Jam Gadang tetap berdiri kokoh dan terpelihara hingga hari ini. Jam Gadang bukan hanya simbol sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi detak jantung kehidupan masyarakat dan ekonomi Bukittinggi,” kata Ramlan.
Menurut Ramlan, peringatan satu abad Jam Gadang tidak hanya menjadi upaya mengenang sejarah, tetapi juga langkah strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus memperkuat sektor pariwisata daerah.
Berbagai kegiatan telah disiapkan untuk memeriahkan peringatan tersebut, di antaranya penanaman 1.000 pohon, festival randai dan pertunjukan kesenian tradisional, seminar, parade 1.000 perempuan berpakaian Minang, parade 100 penyair dunia membaca puisi, diskusi pariwisata dan ekonomi kreatif, serta beragam kegiatan literasi yang melibatkan peserta dari berbagai negara.
Delegasi yang hadir berasal dari sejumlah negara, antara lain Australia, Brunei Darussalam, China, Kolombia, Kosta Rika, Denmark, Jerman, India, Indonesia, Iran, Italia, Jepang, Kazakhstan, Malaysia, Meksiko, Myanmar, Nepal, Palestina, Rusia, Singapura, Spanyol, Sudan, Thailand, Vietnam, Yaman, dan negara lainnya.
Melalui penyelenggaraan IMLF ke-4 dan Peringatan 100 Tahun Jam Gadang, Bukittinggi diharapkan semakin dikenal sebagai pusat kebudayaan, literasi, dan pariwisata yang mampu menjembatani hubungan antarbangsa melalui seni dan budaya.






