Sekretaris Nagari Sinuruik, Dasril, menyebut komitmen tersebut sebagai bentuk tanggung jawab bersama.
“Kami ingin pengelolaan hutan tetap terjaga dan berkelanjutan. Kesepakatan untuk tidak menanam sawit adalah bagian dari upaya melindungi lingkungan untuk generasi mendatang,” ujarnya.
Selain memperkuat pemahaman tentang perhutanan sosial, kegiatan ini juga mengidentifikasi sejumlah tantangan utama, seperti keterbatasan akses permodalan, minimnya pelatihan dan pendampingan, serta belum optimalnya keterlibatan perempuan dan pemuda.
Di sisi lain, peserta menekankan pentingnya peran niniak mamak, bundo kanduang, pemuda, serta penyuluh kehutanan dalam memperkuat kelembagaan lokal dan menciptakan tata kelola hutan yang inklusif.
“Duduak Basamo” pun menjadi langkah awal yang penting agar pembahasan perhutanan sosial tidak berhenti di level kebijakan, tetapi benar-benar berangkat dari pengalaman dan kebutuhan masyarakat yang hidup berdampingan dengan hutan.
Ke depan, hasil diskusi ini diharapkan menjadi pijakan dalam menyusun langkah strategis, mulai dari penguatan ekonomi lokal, peningkatan partisipasi kelompok rentan, hingga perumusan kebijakan nagari yang lebih berpihak pada keberlanjutan. (*).






