“Harapannya dengan kunjungan Dewas ini, kita bisa menyampaikan berbagai permasalahan yang selama ini kami alami di lapangan, baik di poli maupun di IGD. Hal tersebut menjadi catatan bagi Dewas untuk pengembangan program-program BPJS ke depan, salah satunya terkait program rujuk balik,” katanya.
Dalam dialog bersama jajaran manajemen dan tenaga medis, Dewan Pengawas BPJS Kesehatan menerima berbagai masukan terkait mekanisme rujuk balik, kesiapan fasilitas kesehatan tingkat pertama, hingga persoalan ketersediaan obat bagi pasien.
Paulus Agung Pambudhi mengatakan, hasil diskusi memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai tantangan pelaksanaan Program Rujuk Balik di lapangan. Menurutnya, tidak semua pasien dapat langsung dikembalikan ke fasilitas kesehatan tingkat pertama karena banyak yang memiliki penyakit penyerta atau komorbid yang memerlukan penanganan lanjutan di rumah sakit.
“Kami mendapatkan gambaran yang lebih realistis setelah berdialog langsung dengan dokter spesialis yang menjadi penanggung jawab pelayanan. Ternyata kompleksitas penyakit dan adanya komorbid membuat tidak semua pasien dapat dengan mudah masuk ke dalam skema Program Rujuk Balik,” ujarnya.
Ia menambahkan, keberhasilan Program Rujuk Balik juga sangat bergantung pada tingkat kepercayaan pasien terhadap layanan di fasilitas kesehatan tingkat pertama. Karena itu, ketersediaan obat menjadi salah satu aspek yang harus mendapat perhatian.






