BUKITTINGGI, hantaran.co – Kota Bukittinggi sebagai bagian dari Jaringan Kota Pusaka Indonesia memiliki kekayaan warisan budaya yang kuat, baik fisik maupun nonfisik dari sejarah panjangnya termasuk sebagai pusat PDRI. Namun, modernisasi menuntut pelestarian yang tidak hanya melindungi bangunan, tetapi juga mengelola kawasan dan tradisi secara berkelanjutan melalui kolaborasi berbagai aspek.
Hal tersebut disampaikan Perwakilan Institut Teknologi Bandung Bagas Dwi Putra dalam Focus Group Discussion (FGD) bersama Pemko Bukittinggi dalam rangka kajian pelestarian dan pengelolaan kawasan perkotaan berbasis warisan budaya di Aula Balai Kota, Selasa(31/3).
“Kegiatan ini merupakan bagian dari perkuliahan Studio Tematik mahasiswa S2 Perencanaan Wilayah dan Kota. Pemilihan Kota Bukittinggi dinilai sangat relevan karena memiliki sejarah panjang sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga saat ini,” ungkapnya.
Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis ketika membuka FGD tersebut menyampaikan bahwa pembangunan kota modern tidak hanya dipahami sebagai pembangunan fisik dan ekonomi, tetapi juga sebagai ruang sosial budaya yang memuat identitas, nilai dan memori kolektif. Kota Bukittinggi katanya, memiliki sejarah berlapis, sehingga pengelolaan kawasan perkotaan perlu berbasis pelestarian warisan budaya yang terintegrasi.
“Kota Bukittinggi dengan sejarah berlapisnya memerlukan pengelolaan berbasis pelestarian warisan budaya yang mengintegrasikan aspek fisik, sosial dan ekonomi. FGD ini menjadi bagian penting dalam perumusan kebijakan berbasis data dan menghasilkan rekomendasi strategis yang relevan,” ujarnya.
Wawako menambahkan, Pemerintah Kota Bukittinggi berkomitmen membangun kota yang tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga identitas dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui kolaborasi multipihak, termasuk peran aktif akademisi, masyarakat dan generasi muda. Hal ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang menyeimbangkan aspek ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan.











