PADANG, HANTARAN.co— Peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) 1 Mei 2026 dimanfaatkan Aliansi Dewan Eksekutif Mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (DEMA PTKIN) Seluruh Indonesia untuk mengangkat isu yang kerap luput dari sorotan, yakni ketimpangan kesejahteraan buruh tani.
Di tengah gencarnya agenda swasembada pangan nasional, kelompok buruh tani dinilai masih menjadi pekerja paling rentan. Mereka berada di garis depan produksi pangan, namun justru menjadi pihak yang paling terdampak saat harga komoditas bergejolak.
Koordinator Tim Ketahanan Pangan dan Pembangunan Daerah Tertinggal Aliansi DEMA PTKIN, Hidayatul Fikri, menegaskan bahwa narasi kesejahteraan buruh tidak boleh hanya berfokus pada sektor industri perkotaan.
“Buruh tani adalah pilar utama ketahanan pangan kita. Namun ironisnya, mereka sering kali menjadi kelompok yang paling pertama jatuh dalam kemiskinan saat harga pangan berfluktuasi,” ujar Fikri dalam keterangan resminya, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, momentum May Day tahun ini harus menjadi titik balik bagi pemerintah untuk mulai menetapkan standar upah layak bagi buruh tani, sebuah aspek yang selama ini dinilai terabaikan.
Fikri juga menyoroti lonjakan anggaran ketahanan pangan tahun 2026 yang mencapai Rp210,4 triliun. Ia menilai, besarnya anggaran tersebut harus diarahkan pada pendekatan yang berorientasi pada manusia, bukan semata pembangunan fisik.
“Anggaran sebesar itu harus mampu mengintervensi langsung kesejahteraan buruh tani, bukan hanya untuk proyek infrastruktur atau pengadaan,” katanya.





