Ia menilai keterlibatannya dalam forum akademik tersebut menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, akademisi, dan aktivis lingkungan dalam menghadapi ancaman bencana ekologis.
Haridman juga menekankan bahwa pengelolaan lingkungan tidak cukup hanya berbicara soal konservasi, tetapi harus menyentuh aspek edukasi masyarakat, mitigasi bencana, hingga pengembangan ekonomi berbasis alam yang berkelanjutan.
“Kalau masyarakat sudah memiliki kesadaran menjaga lingkungan, maka bencana ekologis bisa diminimalkan. Alam sebenarnya sudah memberikan banyak tanda kepada kita agar lebih bijak dalam mengelola sumber daya alam,” katanya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, relawan, pemerintah daerah, akademisi, dan komunitas lingkungan yang selama ini mendukung gerakan pelestarian lingkungan di Nagari Amping Parak, Kecamatan Sutera.
“Dukungan itu menjadi energi besar bagi kami untuk terus bergerak menjaga kawasan pesisir dan konservasi penyu,” ucapnya lagi.
Pihak Yayasan KEHATI menjelaskan, pelaksanaan IEO 2026 dilatarbelakangi meningkatnya bencana ekologis di Sumatera Barat, seperti banjir bandang dan longsor yang terus berulang dalam beberapa tahun terakhir.
KEHATI menilai bencana ekologis yang terjadi saat ini tidak hanya dipicu faktor alam, tetapi juga dipengaruhi tata kelola sumber daya alam yang belum optimal.






