Untuk mengantisipasi hal ini, ia mengatakan, aparat kepolisian telah menerapkan berbagai skema rekayasa lalu lintas seperti contra flow, sistem satu arah (one way), buka-tutup jalan, hingga pengalihan arus. Namun, langkah tersebut belum mampu menjadi solusi jangka panjang karena terbentur keterbatasan infrastruktur.
Kondisi ini menjadi sinyal kuat bahwa Sumbar membutuhkan lompatan besar dalam pembangunan jaringan jalan, termasuk kehadiran jalan tol sebagai alternatif distribusi arus kendaraan.
“Sudah saatnya kapasitas jalan kita ditingkatkan atau ditambah. Bahkan kebutuhan akan jalan tol di Sumbar menjadi salah satu catatan penting, karena volume kendaraan sudah tidak seimbang dengan kapasitas jalan yang ada,” katanya.
Di sisi lain, perilaku pengendara selama musim mudik dan arus balik tahun ini dinilai relatif lebih baik. Tingkat kepatuhan masyarakat terhadap aturan lalu lintas meningkat, meskipun masih ditemukan pelanggaran dalam skala terbatas. “Secara umum masyarakat cukup disiplin. Memang ada satu dua pelanggaran, tapi setelah diimbau, mereka tetap kooperatif mengikuti arahan petugas,” katanya.
Adapun titik-titik kemacetan, kata Reza, masih berkutat di lokasi yang sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Pasar tumpah, kawasan wisata kuliner, objek wisata, tempat ibadah saat waktu salat, restoran, hingga pusat oleh-oleh dan persimpangan jalan tetap menjadi simpul kepadatan.
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Ditlantas Polda Sumbar telah melakukan pemetaan jauh hari sebelumnya dengan menempatkan personel di titik rawan serta mendirikan pos pelayanan terpadu.
Namun begitu, langkah ini tentu saja tidak cukup untuk menuntaskan kepadatan lalu lintas yang terjadi. “Selama kapasitas jalan tidak ditingkatkan, maka persoalan ini akan terus berulang setiap kali musim mudik,” katanya.






