Menariknya, kenaikan harga yang mulai terjadi saat ini turut mengubah pola aktivitas petani dan arus pasokan buah sawit ke pabrik. Jika sebelumnya antrean kendaraan pengangkut TBS di sejumlah PKS mengular hingga dua hari, kini kondisi tersebut jauh berkurang.
“Sebelumnya antrean truk dan mobil pengangkut sawit bisa sampai dua hari. Sekarang rata-rata hanya sekitar 20 hingga 30 kendaraan yang mengantre di pabrik,” kata Hamdi.
Berkurangnya pasokan TBS ke pabrik, lanjutnya, bukan disebabkan menurunnya produksi, melainkan karena banyak petani memilih menunda panen. Mereka berharap harga terus naik sehingga hasil panen dapat dijual dengan nilai yang lebih tinggi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa petani mulai bersikap lebih hati-hati dalam menentukan waktu panen di tengah fluktuasi harga yang masih terjadi. Harapan akan pemulihan harga menjadi alasan utama petani menahan buah di kebun untuk sementara waktu.
Dalam beberapa pekan terakhir, harga TBS di Pesisir Selatan memang menjadi perhatian berbagai pihak. Sebelumnya, harga sawit swadaya di daerah ini sempat berada pada level yang jauh lebih rendah dibandingkan sejumlah daerah lain di Sumatera Barat, sehingga memicu keluhan dari petani dan desakan agar perusahaan tidak menurunkan harga secara sepihak.






