PADANG, HANTARAN.Co – Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) menggalang komitmen lintas sektor dan dunia usaha dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kampanye dan Penggalangan Komitmen Bersama Pencegahan Kekerasan pada Perempuan dengan Lintas Sektor dan Dunia Usaha digelar di Aula Kantor DP3AP2KB Sumbar, Kamis (25/6/26), bertujuan membangun kemitraan strategis lintas sektor dan mendorong aksi nyata dalam pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Kepala Bidang Perlindungan Hak Perempuan dan Anak DP3AP2KB Sumbar, Desra Elena, mengungkapkan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Sumbar menunjukkan peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Karena itu, pihaknya mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya dunia usaha, untuk berkolaborasi dalam upaya pencegahan.
Baca juga : Gempa Kecil Berulang Bisa Jadi Peringatan, Pakar Unand: Jangan Abaikan, Saatnya Bersiap Hadapi Gempa Besar
“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Diperlukan keterlibatan semua pihak, termasuk dunia usaha, untuk bersama-sama menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala DP3AP2KB Sumbar, dr. Herlin Sridiani, M.Kes, yang juga menjadi pemateri menyebutkan sepanjang 2025 tercatat sebanyak 760 kasus kekerasan terhadap anak usia 0–18 tahun dan 327 kasus kekerasan terhadap perempuan yang dilaporkan. Menurutnya, angka tersebut hanyalah sebagian kecil dari kasus yang sebenarnya terjadi. “Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak ini ibarat fenomena gunung es. Banyak kasus yang terjadi, namun tidak terlaporkan. Akibatnya korban tidak terdeteksi dan rantai kekerasan sulit diputus. Jika dibiarkan, kondisi ini akan berdampak terhadap kualitas Generasi Emas Indonesia 2045,” katanya.
Selain persoalan kekerasan, Herlin juga menyoroti berbagai persoalan lain yang mengancam tumbuh kembang anak, seperti stunting, penyalahgunaan narkoba, hingga berbagai perilaku menyimpang yang memerlukan perhatian bersama.
Ia menegaskan penanganannya tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah daerah, tetapi membutuhkan dukungan seluruh lapisan masyarakat dan dunia usaha melalui program-program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Cegah Kekerasan Terhadap Perempuan Dan Anak DP3AP2KB
“Kami berharap dengan segala keterbatasan yang dimiliki pemerintah, dunia usaha dapat memberikan dukungan nyata. Nantinya komitmen ini akan dikukuhkan dalam sebuah organisasi dan ditargetkan dapat diresmikan pada peringatan Hari Anak Nasional, 23 Juli mendatang,” ujarnya.
Herlin menjelaskan, dari total 898 kasus kekerasan yang tercatat, sebagian besar terjadi di lingkungan terdekat korban. Sebanyak 289 kasus terjadi di lingkungan rumah tangga, sekitar 300 kasus terjadi di lingkungan sekolah, dan 309 kasus terjadi di fasilitas umum.
Sebagai langkah pencegahan, pada Juli mendatang DP3AP2KB Sumbar berencana melakukan skrining kekerasan terhadap siswa baru tingkat SMA. Berdasarkan hasil skrining tahun 2025, sebanyak 21 persen atau 2.647 siswa diketahui pernah mengalami atau terdampak kekerasan.
Dampak psikologis yang muncul akibat kekerasan tersebut cukup mengkhawatirkan. Data menunjukkan sebanyak 7.825 anak merasa bersalah, 8.968 anak mudah tersinggung, 5.965 anak mudah menangis, 4.516 anak kehilangan harapan, 6.578 anak merasa kesepian, dan 1.245 anak memiliki ide untuk mengakhiri hidup.
Untuk memperluas akses pelaporan, DP3AP2KB Sumbar terus mengoptimalkan layanan pengaduan melalui SAPA 129 atau nomor 08111-129-129, yang terhubung dengan UPTD Perlindungan Perempuan dan Anak hingga tingkat kabupaten dan kota.
Lalu dari Tim Forum CSR Sumbar, Rolli Fernando, turut mengatakan bahwa program CSR menjadi salah satu langkah dalam mendukung pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak.
“Berbagai program dan kegiatan turut kami sertai melalui CSR ini. Mulai dari bantuan kegiatan, kebencanaan, kemitraan dengan pemerintah daerah, dan yang lainnya. Termasuk pada upaya pencegahan ini kami sangat mendukung,” katanya.
Rolli menjelaskan, sebagai bentuk dukungan terhadap pencegahan kekerasan tersebut, tidak menutup kemungkinan CSR menjadi salah satu wadah dalam menguatkan komitmen bersama tersebut.
Perwakilan dari GoTo Gojek Indonesia, Taufiq, menyatakan dukungan penuh perusahaan terhadap upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. “Gojek telah menyediakan berbagai fitur keamanan dan kanal pelaporan bagi pengguna maupun mitra apabila mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan, baik verbal maupun nonverbal,” katanya.
Senada dengan itu, Fitri dari Toyota Intercom menilai sosialisasi mengenai pencegahan dan penanganan kasus kekerasan masih perlu diperluas kepada masyarakat. “Perlu sosialisasi yang lebih masif agar masyarakat mengetahui bentuk-bentuk kekerasan, kemana harus melapor, serta lembaga-lembaga yang dapat memberikan perlindungan dan pendampingan kepada korban,” ujarnya.
DP3AP2KB Sumbar berharap komitmen bersama ini semakin memperkuat upaya pencegahan demi mewujudkan lingkungan yang aman, sehat, dan ramah bagi generasi masa depan. (h/jum)






