Dalam kasus tersebut, sebanyak 128 siswa mengalami gangguan kesehatan setelah mengonsumsi makanan MBG yang disediakan dari SPPG Pasir Pauh. Dinkes kemudian melakukan investigasi dan pemeriksaan untuk mengetahui kondisi penyelenggaraan makanan di dapur tersebut.
Susrikawati menjelaskan, temuan bakteri pada sampel makanan berkaitan dengan persoalan kontaminasi yang perlu menjadi perhatian dalam penerapan SOP pengolahan makanan.
“Jenis bakteri stapilococus muncul karena kontaminasi. Ada host yang mengirimkan bakteri dan berkembang biak bahan makaan karena SOP yang kurang maksimal. Itu yang ditracking untuk mengetahui pasti sumber masalahnya dimana,” jelasnya.
Untuk tindak lanjut, Dinkes Kota Pariaman tidak menyebutkan adanya sanksi terhadap SPPG. Penanganan selanjutnya diarahkan pada pembinaan terhadap pihak pengelola, setelah temuan investigasi disampaikan.
“Kami akan panggil pejabat pejabat sppg untuk menyampaikan temuan temuan dan langkah langkah ke depan. Kemudian secara bertahap kita lakukan pembinaan kembali ke SPPG. Kondisi sppg kita nol kilometerkan mulai dari layak higiens sanitasinya. Semuanya mesti melakukan pemeriksaan ulang kembali,” tutupnya.






