Afniwirman menyebut capaian tersebut membuat Sumbar menjadi provinsi dengan progres pemulihan terbaik dibanding daerah lain yang sama-sama terdampak bencana.
“Dari tiga provinsi yang terkena bencana, Sumatera Barat yang paling unggul. Karena itu Dirjen Lahan dan Irigasi Pertanian memberikan bonus kepada Sumbar berupa peluang tambahan program seperti irigasi, jalan usaha tani, perpompaan dan kegiatan pendukung lainnya jika target selesai tepat waktu,” ujarnya.
Pemulihan lahan sawah terdampak di Sumbar tersebar di Kota Padang, Pesisir Selatan, Limapuluh Kota, Pasaman Barat, Agam, Tanah Datar, Solok, Pasaman, Padang Pariaman, Kota Solok dan Kota Pariaman.
Kabupaten Solok menjadi daerah dengan cakupan rehabilitasi terbesar mencapai 1.500 hektare dengan progres konstruksi 100 persen. Realisasi tanam di daerah itu telah mencapai 90 persen.
Bahkan di lokasi groundbreaking rehabilitasi sawah di Jorong Munggu Tanah, Nagari Salayo, Kecamatan Kubung, konstruksi dan penanaman pada lahan seluas 35 hektare sudah rampung sepenuhnya.
Sementara di Kabupaten Padang Pariaman, rehabilitasi sawah telah mencapai 98 persen dari target 644 hektare. Salah satu lokasi yang menjadi perhatian pemerintah pusat berada di Jorong Tanah Taban, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Lubuk Alung.
Tak hanya fokus pada rehabilitasi sawah terdampak, Sumbar juga memperoleh tambahan dukungan anggaran besar untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian secara menyeluruh. Program tersebut meliputi pembangunan irigasi perpompaan, dam parit, jalan usaha tani, irigasi tersier hingga optimalisasi lahan non-rawa.





