Oleh : SYAHMIARNI (Mahasiswa Magister Tadris Bahasa Inggris UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi)
Ada sesuatu yang janggal dalam sistem pendidikan bahasa Inggris di Indonesia.
Seorang siswa belajar bahasa Inggris mulai dari bangku SD, berlanjut ke SMP, lalu SMA – dua belas tahun penuh. Nilai ujiannya bagus. Soal pilihan ganda diselesaikan dengan mulus.tapi ketika diminta berdiskusi bebas dalam bahasa inggris, ia terdiam. Ketika mendengar percakapan penutur asli tanpa subtitle, ia kehilangan arah. Ketika diminta menulis satu paragraf bebas tanpa contekan ia memandang kertas kosong dengan wajah yang lebih kosong lagi.
Dua belas tahun, dan hasilnya segitu.
EF English Proficiency Index (EF EPI) 2025 menempatkan Indonesia di peringkat ke-80 dari 123 negara, dengan skor 471 yang masih bertahan dalam kategori Low Proficiency seperti pada tahun 2024. Angka itu bukan sekedar statistik dingin. Ini adalah cerminan dari jutaan pelajaran bahasa Inggris yang sudah berlalu, dan entah kemana perginya.
Pertanyaannya bukan lagi “apakah ada masalah?” Pertanyaannya adalah: masalahnya dimana dan mengapa kita terus mengulang cara yang sama sambil berharap hasil yang berbeda?
Ilmu pemerolehan bahasa kedua, Second Language Acquisition atau SLA, sudah lama punya jawabannya. Sayangnya, jawabannya jarang benar-benar diterapkan di ruang pendidikan kita.
Stephen Krashen, salah satu tokoh yang paling berpengaruh dalam SLA, membedakan dua proses yang sering dicampuradukkan: acquisition dan learning. Pemerolehan (acquisition) adalah proses bawah sadar yang terjadi ketika seseorang tenggelam dalam bahasa secara alami dan bermakna, seperti anak kecil yang belajar bicara tanpa pernah diajarkan grammar. Pembelajaran (learning) adalah proses sadar yang terjadi di kelas, menghafal rumus tenses, mengerjakan soal pilihan ganda. Krashen menegaskan: yang benar-benar membentuk kemampuan bahasa adalah acquisition, bukan learning.
Dan disinilah persoalannya.
Pengajaran bahasa Inggris di Indonesia selama ini terlalu berfokus pada teori dan tata bahasa, sementara keterampilan berbicara dan mendengarkan, yang justru paling dibutuhkan, sering terpinggirkan. Ruang kelas bahasa Inggris lebih banyak diisi dengan latihan soal dan hafalan struktur kalimat, bukan percakapan nyata yang bermakna. Hasilnya siswa tahu grammar tapi tidak bisa berbicara. Tahu rumus tapi tidak bisa berkomunikasi.
Krashen juga memperkenalkan konsep affective filter, semacam dinding psikologis yang berdiri di dalam diri pelajar. Ketika seseorang merasa cemas, takut salah, atau tidak melihat relevansi dari apa yang dipelajari, dinding itu naik tinggi. Input sebanyak apa pun tidak akan terserap dengan baik. Ini menjelaskan mengapa banyak siswa Indonesia yang duduk di kelas bahasa Inggris selama bertahun-tahun, tapi tetap merasa bahasa itu asing dan jauh dari dirinya.
Penelitian menunjukkan bahwa faktor utama penyebab rendahnya minat dan kemampuan bahasa Inggris siswa antara lain metode pengajaran yang kurang menarik, kurangnya dukungan lingkungan, dan terbatasnya kesempatan berlatih bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari. Tiga faktor itu saling mengunci satu sama lain. Metode membosankan membunuh motivasi. Tanpa motivasi, siswa tidak mencari latihan di luar kelas. Tanpa latihan di luar kelas, kemampuan tidak berkembang. Lalu lingkungan yang tidak mendukung membuat semuanya semakin stagnan.
Michael Long melalui Interaction Hypothesis-nya menambahkan dimensi penting yang juga sering absen dari kelas bahasa Inggris kita: interaksi yang bermakna. Bukan sekedar tanya jawab guru-murid yang sudah diketahui jawabannya. Bukan sekedar role-play yang terasa dipaksakan. Yang dimaksud adalah negosiasi makna yang sesungguhnya, percakapan dimana kedua belah pihak benar-benar tidak tahu apa yang akan dikatakan selanjutnya, dan harus berjuang untuk dipahami.
Di kelas-kelas yang terlalu padat, dengan jam pelajaran yang terlalu singkat, dan dengan tekanan ujian yang terlalu dominan, interaksi semacam ini hampir mustahil terjadi.
Meryl Swain melengkapi gambaran ini dengan Output Hyphothesis. Menerima input – mendengar dan membaca – saja tidak cukup. Pelajar perlu dipaksa untuk memproduksi bahasa: berbicara, menulis dan bernegosiasi. Ketika seseorang mencoba mengungkapkan sesuatu dalam bahasa yang dipelajari, ia akan menemukan apa yang belum dikuasainya. Dan dari celah itulah pemerolehan terjadi. Sayangnya, kesempatan untuk berproduksi itu sangat langka dalam sistem yang terlalu berorientasi pada ujian tertulis pilihan ganda.
Semua teori ini mengarah pada satu kesimpulan yang sama: bukan siswanya yang bermasalah. Yang bermasalah adalah kondisi pembelajaran yang tidak memenuhi syarat-syarat dasar yang dibutuhkan otak manusia untuk benar-benar memperoleh bahasa. Input yang tidak bermakna. Kecemasan yang tidak dikelola. Interaksi yang tidak terjadi. Output yang tidak difasilitasi.
Kehadiran guru bahasa Inggris yang profesional diperlukan, bukan sekedar menguasai materi, tapi yang mampu mengenali keberagaman karakteristik setiap siswa, memahami bagaimana masing-masing dari mereka menyerap pelajaran, dan merancang pengalaman belajar yang benar-benar hidup. Ini bukan pekerjaan yang bisa diselesaikan dengan modul seragam dan soal latihan yang sama untuk semua.
Dua belas tahun adalah waktu yang sangat lama. Cukup untuk fasih dalam bahasa apapun, jika kondisinya tepat. Cukup untuk tidak menghasilkan apa-apa, jika kondisinya salah.
Indonesia sudah lama berada di kondisi yang kedua. Dan EF EPI 2025 hanyalah satu lagi pengingat bahwa kita belum serius mengubahnya





