Sekretaris Jenderal YAICI, Satria Yudhistira, menambahkan bahwa pihaknya bersama Aisyiyah telah lama melakukan kajian terkait persoalan tersebut di masyarakat.
“Kami melakukan penelitian dan survei, bekerja sama dengan berbagai universitas, termasuk perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah, untuk memahami kenapa kental manis masih dijadikan minuman susu untuk anak,” ucapnya.
Hasil kajian tersebut kemudian menjadi dasar penyusunan program edukasi gizi yang kini digencarkan, termasuk dalam situasi pasca bencana.
“Anak-anak dan perempuan merupakan kelompok paling rentan terhadap kesalahan pola konsumsi. Karena itu, edukasi seperti ini penting untuk mendorong pemulihan gizi masyarakat,” tambahnya.
Chairunnisa mengingatkan, jika pola konsumsi yang keliru terus berlangsung, maka dapat memicu masalah gizi pada anak, termasuk stunting atau gangguan pertumbuhan.
“Jika menjadi kebiasaan, anak bisa mengalami kekurangan gizi. Terutama pada anak di bawah dua tahun, ini berisiko menyebabkan stunting, yaitu pertumbuhan yang tidak sesuai dengan usianya,” jelasnya.
Melalui kegiatan ini, Aisyiyah berharap para ibu mendapatkan pemahaman baru tentang pentingnya gizi seimbang bagi seluruh anggota keluarga.





