PADANG, HANTARAN.co— Universitas Andalas (UNAND) resmi mengukuhkan tujuh Guru Besar Tetap dalam prosesi di Gedung Convention Hall Kampus Limau Manis, Sabtu (25/4/2025). Momentum ini tak sekadar seremoni akademik, tetapi menjadi penegasan arah baru UNAND dalam mendorong riset yang berdampak nyata secara sosial dan ekonomi di tengah persaingan global.
Rektor UNAND, Efa Yonnedi, menegaskan bahwa jabatan Guru Besar merupakan amanah strategis yang menuntut kontribusi lebih luas dari sekadar pencapaian akademik.
“Pengukuhan ini bukan hanya puncak karier akademik, tetapi juga tanggung jawab besar untuk membawa universitas semakin maju dan berdaya saing global melalui riset yang inovatif dan relevan,” ujarnya.
Tujuh profesor yang dikukuhkan berasal dari Fakultas Peternakan dan Fakultas Hukum, yakni Prof. Dr. Ir. Husmaini, M.P.; Prof. Dr. Kurnia Warman, S.H., M.Hum.; Prof. Dr. Ir. Elly Roza, M.S.; Prof. Dr. Ir. Firda Arlina, M.Si., IPU.; Prof. Dr. Ir. Montesqrit, S.Pt., M.Si., IPM., ASEAN Eng.; Prof. Dr. Sri Melia, S.T.P., M.P.; serta Prof. Dr. Ferdi, S.H., M.H.
Menurut Efa, peran Guru Besar sangat krusial sebagai pemimpin intelektual yang mampu menggerakkan ekosistem riset dan memperkuat reputasi universitas. Ia menekankan bahwa karya ilmiah tidak boleh berhenti pada publikasi, melainkan harus memberi dampak nyata bagi masyarakat.
“Dalam era persaingan global yang semakin ketat, Guru Besar dituntut menghasilkan riset yang tidak hanya melahirkan pengetahuan baru, tetapi juga memberikan manfaat sosial dan ekonomi yang terukur,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa indikator seperti Return on Investment (ROI) dan Social Return on Investment (SROI) menjadi tolok ukur penting dalam menilai keberhasilan riset. Hal ini sekaligus menegaskan pentingnya hilirisasi hasil penelitian agar mampu mendorong sektor industri, memperkaya kebijakan publik, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Lebih lanjut, Rektor juga menyoroti tantangan dalam aspek pendanaan riset. Tahun ini, UNAND memperoleh pendanaan dari Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM) untuk 259 proposal dengan total anggaran mencapai Rp21 miliar. Namun, dari sekitar 1.500 dosen, hanya 174 yang berperan sebagai ketua proposal.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa potensi besar yang dimiliki UNAND masih belum sepenuhnya dimaksimalkan. Ke depan, kami berharap lebih banyak akademisi yang aktif mencari dan mengelola pendanaan riset, baik dari pemerintah, swasta, maupun lembaga internasional,” ujarnya.
Efa berharap para Guru Besar yang baru dikukuhkan dapat menjadi motor penggerak transformasi kampus menuju pusat inovasi global. Ia menekankan bahwa peran tersebut tidak hanya terbatas di lingkungan akademik, tetapi juga dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan di tingkat nasional hingga internasional.
“Momentum ini harus menjadi titik awal untuk bekerja lebih keras, lebih cerdas, dan lebih inovatif. Guru Besar harus tampil sebagai agen perubahan yang mampu membawa UNAND ke panggung dunia,” tuturnya.
UNAND Kukuhkan Tujuh Guru Besar, Siap Dorong Inovasi Global
Ardasani -3 min baca






