Ia menegaskan, Program SIGALO menjadi contoh bahwa pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada kegiatan sosial, tetapi juga mendorong penguatan ekonomi nagari melalui revitalisasi BUMNag.
“Dengan kolaborasi ini mampu menjadikan budidaya madu galo-galo sebagai produk unggulan sekaligus destinasi agrowisata edukasi yang ramah lingkungan,” ujarnya.
Sementara itu, Pengawas BUMNag Anrila Sejahtera, Acin mengatakan usaha budidaya madu galo-galo berawal dari penemuan sarang lebah tanpa sengat di kawasan perbukitan Nagari Lurah Ampalu yang kemudian dikembangkan menjadi peluang ekonomi.
“Awalnya sarang lebah ditemukan secara tidak sengaja. Dari sana mulai mempelajari cara membudidayakannya. Setelah dicoba, ternyata lebah itu dapat dikembangkan dan menghasilkan madu dengan kualitas yang baik. Dari situlah budidaya ini terus berkembang hingga menjadi salah satu usaha BUMNag,” ujarnya
Saat ini, BUMNag Anrila Sejahtera mengelola 38 koloni lebah tanpa sengat dengan empat jenis, yakni Itama, Thoracica, Terminata, dan Laeviceps. Madu dipanen secara berkala pada awal setiap bulan dengan metode yang tetap menjaga kesehatan dan perkembangan koloni.






