“Seharusnya rumah sakit ini menjadi percontohan. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Banyak keluhan soal petugas yang tidak ramah dan sistem yang tidak transparan,” ucapnya lagi.
Tak hanya itu, sorotan juga diarahkan pada aspek kepemimpinan. Ia menilai Direktur Utama harus bertanggung jawab dan mendorong evaluasi menyeluruh jika tidak ada perbaikan signifikan.
“Kalau tidak mampu memperbaiki, sebaiknya diganti saja. Rumah sakit sebesar ini butuh pemimpin dengan visi dan keberanian melakukan pembenahan total,” tuturnya.
Kronologi Versi Keluarga
Dalam keterangannya, Nuri Khairma mengungkap sejumlah kejanggalan dalam penanganan anaknya. Ia menyebut, pasien yang awalnya dirujuk untuk mendapatkan perawatan intensif di ruang PICU infeksius justru ditempatkan di ruang HCU bedah yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi medis.
Permintaan keluarga untuk mendapatkan fasilitas tambahan, seperti ruang khusus atau perawatan intensif, disebut tidak dipenuhi. Kondisi di lapangan, menurutnya, juga jauh dari ideal karena pasien ditempatkan di ruang terbuka bersama pasien dewasa yang berisiko terhadap infeksi.
Ia juga menyoroti lambatnya respons tenaga medis saat kondisi anaknya memburuk. Upaya keluarga mencari bantuan sejak dini hari disebut tidak ditangani secara serius karena dianggap sebagai keluhan biasa.
“Kami akan mengusut tuntas kasus ini. Karena pihak rumah sakit mulai melayangkan alasan yang tidak masuk akal. Pihak rumah sakit menyampaikan kepada keluarga bahwa Alceo dari awal kritis. Pernyataan ini sangat bertentangan dengan keterangan dokter penanggung jawabnya selama perawatan,” ujar Nuri melalui pesan WhatsApp yang diterima, Sabtu (18/4/2026).






