Aprilia menjelaskan, sebagai kota wisata, Bukittinggi membutuhkan pendekatan komunikasi yang adaptif dan inovatif. Strategi Cyber PR yang diterapkan tidak hanya berfokus pada promosi, tetapi juga membangun narasi sejarah, budaya, dan identitas kota secara berkelanjutan.
Dalam waktu dekat, Pemerintah Kota Bukittinggi akan menggelar peringatan 100 tahun Jam Gadang, yang menjadi ikon utama kota tersebut. Salah satu agenda unggulan adalah Jam Gadang Photography Competition, yang dirancang sebagai bagian dari strategi komunikasi visual untuk memperkuat citra kota di tingkat nasional.
“Melalui lomba fotografi ini, kami ingin mengangkat Bukittinggi sebagai kota wisata sejarah sekaligus kota perjuangan yang kaya akan nilai budaya,” jelasnya.
Lomba foto yang terbuka untuk umum ini, akan menghadirkan sejumlah juri fotografi profesional, di antaranya Risman Marah, Arbain Rambey, serta Erison J Kambari.
Lebih jauh, Aprilia menekankan bahwa pemanfaatan konten visual seperti fotografi merupakan bagian penting dari strategi Cyber PR. Di mana kekuatan visual dinilai mampu membangun persepsi dan daya tarik publik secara lebih efektif di era digital.
Melalui kuliah lapangan ini, para mahasiswa tidak hanya memperoleh pemahaman teoritis, tetapi juga menyaksikan langsung bagaimana strategi komunikasi digital dirancang, diimplementasikan, dan dievaluasi oleh pemerintah daerah.
Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya kolaborasi antara akademisi dan praktisi dalam menghadapi tantangan komunikasi di era digital.
Dengan pendekatan Cyber PR yang semakin terintegrasi, Kota Bukittinggi dinilai berhasil memposisikan diri sebagai salah satu daerah dengan strategi komunikasi publik yang adaptif dan progresif di Sumatera Barat. (*).






