Berita

Cegah Perilaku Seksual Remaja, Dosen Poltekkes Kemenkes Padang Perkuat Peran Keluarga dan Pemangku Adat

×

Cegah Perilaku Seksual Remaja, Dosen Poltekkes Kemenkes Padang Perkuat Peran Keluarga dan Pemangku Adat

Sebarkan artikel ini
Kegiatan pengabdian masyarakat Prodi D3 Kebidanan Bukittinggi, Poltekkes Kemenkes Padang di SMAN 4 Bukittinggi.

BUKITTINGGI, hantaran.co – Penguatan peran keluarga dan pemangku adat sangat penting dalam pengawasan dan mencegah perilaku seksual berisiko pada remaja Generasi Z ( Gen Z).

Peningkatan kasus kehamilan yang tidak diinginkan serta maraknya paparan konten digital berisiko pada remaja Gen Z, membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak.

Untuk menjawab tantangan tersebut,
tim pengabdian masyarakat (Pengabmas) dari Program Studi D-III Kebidanan Bukittinggi, Poltekkes Kemenkes Padang melaksanakan kegiatan pengabdian melalui workshop interaktif satu hari di SMAN 4 Bukittinggi, Minggu (16/8).

Kegiatan workshop yang melibatkan 15 orang tua siswa dan 10 pemangku adat yang terdiri dari unsur ninik mamak, cerdik pandai, dan bundo kanduang tersebut, menyatukan peran keluarga dan struktur adat nagari dalam satu forum pembinaan.

Workshop mengusung tema “Sinergi Orang Tua dan Pemangku Adat Mencegah Perilaku Seksual Berisiko Remaja”. Tema itu berpijak pada nilai kearifan lokal Minangkabau yakni “Anak Dipangku, Kamanakan Dibimbiang”.

Tim Pengabmas Poltekkes Kemenkes Padang di SMAN 4 Bukittinggi diketuai oleh Lisma Evareny, M.P.H, dengan anggota tim Fitrina Bachtar, Arneti, dan mahasiswa fasilitator (Tania Aulia Divani, Maya Kurnia Putri Br. Siburian, dan Devi Lestari Sinurat).

Lisma Evareny menyampaikan bahwa fenomena perilaku seksual berisiko pada remaja salah satu penyebabnya dipicu oleh melemahnya jaring pengawasan kolektif serta kesenjangan komunikasi digital antara generasi tua dan Gen Z.

Baca Juga  50 Personel Polres Pessel Naik Pangkat, Momentum Refleksi Akhir Tahun Pengabdian Polri

Menurutnya, selama ini pengawasan remaja sering dibebankan sepenuhnya kepada orang tua di rumah. Sementara peran ninik mamak dan bundo kanduang cenderung tergeser oleh modernisasi dan kesibukan. Padahal dalam adat Minangkabau, pengawasan generasi muda adalah tanggung jawab bersama.

“Melalui kegiatan ini kita mempertemukan orang tua dan pemangku adat untuk membangun kembali pola pengawasan kolaboratif-dialogis,” ujar Lisma Evareny.

Dikatakannya, keunggulan dan kebaruan utama dari program pengabdian ini terletak pada model kemitraan strategis dengan Kerapatan Adat Nagari (KAN) Kota Bukittinggi dan SMAN 4 Bukittinggi.

KAN tidak sekadar diposisikan sebagai tamu undangan, melainkan dilibatkan sejak tahap awal advokasi penentuan jadwal hingga menjadi penyedia narasumber resmi.

“Keterlibatan langsung KAN memberikan legitimasi adat yang kuat atas materi pengawasan berbasis agama dan nilai budaya yang disampaikan,” katanya.

Ia menjelaskan, dalam sesi workshop para peserta membahas berbagai topik krusial, antara lain teknik komunikasi pengawasan remaja berbasis adat Minangkabau, pendeteksian dini perilaku berisiko, hingga strategi pengawasan penggunaan gawai (digital parenting) tanpa mengabaikan privasi remaja.

Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan antusiasme yang sangat tinggi dari kedua kelompok peserta. Diskusi berlangsung interaktif dan penuh keterbukaan, mencairkan kekakuan komunikasi lintas generasi.

Baca Juga  Membahayakan Pengguna Jalan Satpol PP Padang Amankan Pak Ogah di Kawasan UNP

Evaluasi kuantitatif melalui instrumen pretest dan posttest juga mencatatkan peningkatan pengetahuan yang signifikan. Untuk kelompok orang tua siswa, proporsi tingkat pengetahuan berkategori ‘Baik’ melonjak tajam dari 50,0 persen saat pretest menjadi 92,3 persen pada posttest.

Begitu juga untuk kelompok pemangku adat (ninik mamak, cerdik pandai, dan bundo kanduang), dimana tingkat pengetahuan berkategori ‘Baik’ meningkat dari 70,0 persen menjadi 100 persen pada posttest.

“Pihak KAN dan Kepala SMAN 4 Bukittinggi menyambut positif keberhasilan model kemitraan ini. Kehadiran ninik mamak dan bundo kanduang dalam forum bersama orang tua dinilai menjadi modal sosial yang sangat berharga untuk membentengi remaja Bukittinggi dari ancaman pergaulan bebas,” ujarnya.

Ia menambahkan, model pengawasan berbasis kearifan lokal ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali pertemuan, melainkan dapat direplikasi secara berkelanjutan di nagari-nagari serta sekolah-sekolah lain di Kota Bukittinggi dan Sumatera Barat.

“Dengan berfungsinya kembali jaring pengawasan “Anak Dipangku, Kamanakan Dibimbiang”, Generasi Z Minangkabau diharapkan dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat secara reproduksi, cerdas secara digital, dan teguh memegang marwah adat serta agama,” harapnya. (*)