Media sosial ibarat belantara yang nyaris tanpa batas. Siapa yang memiliki pengaruh, jaringan, dan kemampuan mengendalikan narasi sering kali tampil sebagai pemenang. Di ruang ini, kepentingan dapat bergerak lebih cepat daripada etika, sementara persepsi publik kerap dibentuk bukan oleh kebenaran, melainkan oleh kekuatan distribusi informasi.
Fakta ini bisa kita saksikan di dunia maya akhir-akhir ini. Perang US-Israel vs Iran juga tidak luput dari “perang kedigdayaan” informasi untuk membangun narasi keunggulan dan kelemahan lawan untuk mendapat simpati publik dunia. Wajar adanya narasi propaganda selama perang berlangsung sering dijumpai di media maya. Info “kematian” PM Israel, Benyamin Netanyahu dan berbagai fake video AI, pengeboman di berbagai tempat atau target, narasi negatif lainnya muncul bak jamur setiap hari. Entah siapa yang membuat, dan entah siapa yang percaya.
Faktanya, tidak jarang berbagai kebenaran, kebaikan, kemenangan, prestasi, dan kerja nyata dikalahkan oleh gerakan jahat masif yang terorganisasi rapi. Dengan mengandalkan narasi negatif, disinformasi, hoax, bahkan fitnah, kelompok tertentu berupaya melumpuhkan pihak yang dianggap musuh dan dapat menghalangi kepentingannya.
Mereka inilah yang bisa disebut sebagai Fir’aun-Fir’aun digital. Melalui akun anonim, tanpa identitas yang jelas, tanpa alamat dan penanggung jawab yang dapat dimintai pertanggungjawaban, mereka bebas membangun opini, merusak reputasi, dan menggerus kepercayaan publik terhadap pihak lain.
Mereka bergerak tanpa banyak mempertimbangkan nilai moral. Hoaks, disinformasi, ujaran kebencian, hingga fitnah diproduksi dan disebarluaskan secara terus-menerus melalui berbagai medium, mulai dari poster digital, video pendek hasil potongan konteks, hingga berbagai bentuk manipulasi informasi lainnya. Tujuannya sederhana memenangkan pertarungan narasi dan menghancurkan lawan yang dianggap mengancam kepentingan mereka.
Jika dicermati, karakter Fir’aun dalam Al-Qur’an memiliki sejumlah kemiripan dengan perilaku para “Fir’aun digital” tersebut, antara lain: Merasa dirinya paling benar, bahkan menempatkan diri seolah-olah sebagai sumber kebenaran tunggal. Gemar memaksakan kehendak dengan berbagai cara. Tidak segan menghancurkan siapa pun yang dianggap mengancam posisinya. Memelihara jaringan dan kroni untuk menyerang pihak yang dipersepsikan sebagai musuh. Berupaya menyingkirkan ancaman hingga ke akarnya, seperti membunuh bayi laki-laki yang baru lahir. Dan, mencegah munculnya kekuatan baru yang berpotensi mengurangi pengaruhnya.






