Sebagai contoh, ia menyebut sudah ada
pelaku usaha yang berhasil memfasilitasi produk
UMKM Sumbar menembus pasar Malaysia
melalui pembinaan, standarisasi, hingga
distribusi. Praktik seperti ini diharapkan dapat
diperluas.
Selain UMKM, Mahyeldi juga menyoroti
potensi komoditas unggulan Sumbar seperti
kakao dan gambir yang memiliki daya saing
global. Namun, ia mengakui pengelolaannya
masih perlu diperkuat. “Sebagian besar
kebutuhan dunia berasal dari Sumbar, tetapi
masih diekspor dalam bentuk mentah. Nilai
tambahnya belum kita rasakan karena hilirisasi
belum optimal,” ujarnya.
Sebagai bagian dari kegiatan, Mahyeldi jugmenyaksikan penandatanganan kerja sama
program Apindo UMKM Merdeka antara DPP
Apindo Sumbar, Universitas Andalas (Unand),
dan Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar.
“Mudah-mudahan Rakerkonprov ini melahir
kan keputusan strategis bagi kemajuan ekonomi
Sumbar,” ucapnya.
Ketua Umum Apindo, Sinta Kamdani
menekankan bahwa sinergi antara pemerintah,
dunia usaha, dan akademisi menjadi kunci dalam
menghadapi dinamika ekonomi global yang
semakin kompleks, mulai dari kenaikan harga
energi hingga tekanan inflasi.
Menurutnya, Sumbar memiliki peluang besar
untuk tumbuh melalui sektor unggulan, bonus
demografi, serta pengembangan pariwisata.
“Kolaborasi lintas sektor seperti ini penting untuk
mendorong pertumbuhan ekonomi yang
inklusif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua DPN Apindo, Widjaja
Kamdani menyatakan pihaknya siap bersinergi
dengan pemerintah daerah (pemda) dalam
mendorong pertumbuhan ekonomi Sumbar.
“Kami siap bersinergi dengan pemerintah dan
pelaku UMKM lokal untuk menggerakkan
perekonomian Sumbar,” ujarnya.






