Berita

Parampuan, Piring dan Tumpukan Kain Jemuran’, Refleksi Perempuan Minang di Era Modern

×

Parampuan, Piring dan Tumpukan Kain Jemuran’, Refleksi Perempuan Minang di Era Modern

Sebarkan artikel ini

Nurima menguraikan judul karya tari kontemporernya, kata “(Parampuan)” berasal dari Tambo Minang sebutan untuk perempuan bermakna berbudi baik. Kata “Piring” merepresentasikan marwah dan tanggung jawab perempuan. Sementara “Tumpukan Kain Jemuran” bermakna beban berlapis yang harus ditanggung dalam persimpangan karir, domestikasi perempuan, serta tugas menjaga identitas perempuan Minangkabau.

“Pesan yang ingin disampaikan lewat karya ini ialah kita boleh melangkah sejauh apapun tanpa terlalu memberatkan peran perempuan sebagai domestikasi. Namun yang perlu diingat setiap langkah kita itu membawa identitas,” ujarnya.

Sebagai pelaku seni, Nurima mengapresiasi kehadiran program FPK dari Balai Pelestarian Kebudayaan. Sebab, menurutnya melalui dukungan FPK para pelaku budaya, komunitas, dan lembaga kebudayaan diberikan ruang untuk melaksanakan berbagai inisiatif kebudayaan yang berkontribusi pada perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Terlebih ia menilai kebanyakan generasi muda saat ini mulai melupakan dan kurang memahami budaya minang karena terhimpit oleh perkembangan zaman.

“Melalui program ini karya seni dapat dijadikan sebagai penyebaran edukasi kebudayaan. Sehingga anak muda bisa belajar dan tertarik berkecimpung,” ujarnya