Penulis : IRWANDI NASHIR
(Dosen UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi)
Fenomena ini sebetulnya bukan barang baru, melainkan cerita lama yang terus berulang dengan aktor dan panggung yang berbeda. Kita tentu ingat kisah ikonik aktor kawakan Haji Incik Muhammad Damsyik. Begitu piawainya beliau memerankan tokoh fiktif Datuak Maringgih dalam serial Siti Nurbaya, hingga karakter antagonis itu melekat erat pada dirinya di dunia nyata.
Suatu hari saat Muhammad Damsyik sedang berjalan-jalan santai di sebuah mal, suasana tiba-tiba riuh. Bukan karena sambutan fans yang histeris kagum, melainkan karena pengunjung serempak menyorakinya, meneriakinya sebagai lelaki tua yang jahat dan kejam. Padahal, itu semua hanyalah akting di depan layar kaca, bukan kepribadian aslinya sehari-hari. Namun, mengapa masyarakat bisa semarah itu? Jawabannya terletak pada bagaimana otak kita bekerja: di dalam kepala para pengunjung mall tersebut, telah terbentuk sebuah “algoritma pikiran” yang secara otomatis mengaitkan wajah Muhammad Damsyik dengan simbol kejahatan mutlak.
Algoritma pikiran adalah sebuah cetak biru kognitif yang bekerja secara bawah sadar. Ketika otak manusia dijejali oleh stimulus visual yang sama secara berulang-ulang, ia akan mengambil jalan pintas untuk menarik kesimpulan tanpa lewat jalur logika yang panjang. Otak kita malas untuk terus-menerus memverifikasi mana yang fiksi dan mana yang fakta. Begitu sebuah narasi visual berhasil menyentuh emosi—baik itu rasa benci, sedih, atau kagum—maka algoritma kognitif ini akan langsung mengunci penilaian tersebut sebagai sebuah kebenaran absolut.
Dalam kasus Datuak Maringgih, penonton gagal memisahkan antara si manusia dan si karakter. Realitas buatan yang mereka tonton di televisi telah meng-instal perangkat lunak baru di dalam kepala mereka, membuat mereka melihat dunia nyata menggunakan kacamata drama.
Nahasnya, celah psikologis inilah yang sekarang diadopsi secara masif dan cerdik oleh para pejabat publik kita melalui apa yang bisa kita sebut sebagai sinematografi politik. Jika dulu akting digunakan untuk menghibur di dunia teater, hari ini akting digunakan untuk menggalang simpati di panggung kekuasaan. Polanya sangat mudah ditebak namun anehnya selalu berhasil. Saat ada bencana alam, seorang pejabat akan datang dengan pakaian dinasnya, berdiri tegak di tepi sungai yang bergolak, lalu mengacungkan jarinya, menunjuk-nunjuk ke arah lokasi yang terdampak dengan raut muka penuh keprihatinan. Semua gerak-gerik itu tidak dibiarkan menguap begitu saja; ada kamera yang siap membingkainya dari sudut terbaik (angle) yang sudah diperhitungkan.
Rumus Algoritma Pikiran Modern:Aksi Simbolik + Editing Sinematik = Persepsi Kepedulian
Proses produksi tidak berhenti sampai di situ. Agar efek hipnotisnya bekerja sempurna ke dalam pikiran masyarakat, video rekaman tersebut masuk ke ruang penyuntingan. Ditambahkanlah musik latar yang mendayu-dayu atau penuh keagungan, lalu bagian saat sang pejabat menunjuk ke arah banjir diubah menjadi gerakan lambat (slow motion) demi mempertegas kesan dramatis. Ketika konten ini berseliweran di media sosial, masyarakat pun langsung terbius.
Tanpa sadar, algoritma pikiran baru kembali terbentuk di kepala penonton: “Bapak ini sangat peduli rakyat,”* atau “Lihatlah, pemimpin kita begitu cepat tanggap.” Pesan kognitif ini langsung tertanam kuat, melompati pertanyaan kritis yang seharusnya muncul: apa solusi konkret yang dibawa oleh bapak tersebut selain sekadar telunjuk yang mengarah ke air?
Masyarakat sering kali lupa bahwa di balik rekaman yang tampak heroik dan menguras air mata itu, terdapat sebuah persiapan yang sangat matang. Tidak ada yang spontan di era digital ini. Minimal, ada skenario sederhana yang sudah ditulis, arahan gaya tentang bagaimana harus melangkah, hingga penunjukan langsung siapa yang bertugas memegang kamera dan menyebarkannya ke jejaring sosial. Ini adalah industri citra, di mana substansi kebijakan nomor dua, yang penting adalah estetika visualnya terlebih dahulu. Akibatnya, esensi dari sebuah kinerja publik menjadi kabur. Kita tidak lagi menilai seorang pemimpin dari efektivitas program kerjanya, melainkan dari seberapa mahir tim kreatifnya mengedit sebuah video di aplikasi ponsel.
Jika kita tidak mulai melatih pikiran untuk berpikir kritis dan membongkar algoritma buatan ini, kita akan terus menjadi penonton yang terjebak dalam delusi masal. Kita akan mudah menganggap akting politik sebagai sebuah ketulusan yang nyata, sama seperti penonton zaman dulu yang mengira Muhammad Damsyik adalah Datuak Maringgih yang tega menyiksa Siti Nurbaya. Bedanya, jika dulu kesalahan algoritma pikiran hanya berakhir dengan sorakan di dalam mall, hari ini kesalahan algoritma pikiran bisa menentukan nasib sebuah bangsa untuk lima tahun ke depan.
Sudah saatnya kita matikan musik latar dramatis itu, abaikan gerakan lambatnya, dan mulai melihat apa yang sebenarnya dikerjakan saat kamera sudah dimatikan.






