“Transformasi kualitas SDM tidak dimulai dari bangku sekolah atau dunia kerja, tetapi dimulai sejak dalam kandungan hingga proses pengasuhan di lingkungan keluarga,” katanya.
Untuk itu, pemerintah menekankan penguatan tiga pilar pembangunan keluarga. Pilar pertama adalah peningkatan kesehatan keluarga melalui percepatan penurunan stunting dengan memastikan pemenuhan gizi, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.
Pilar kedua adalah penguatan pendidikan karakter di lingkungan keluarga. Rumah harus menjadi sekolah pertama bagi anak untuk menanamkan nilai integritas, kejujuran, disiplin, tanggung jawab, dan semangat gotong royong sehingga lahir generasi yang adaptif dan berdaya saing.
Sementara pilar ketiga adalah penguatan pola pengasuhan yang melibatkan ayah dan ibu secara seimbang. Pada bagian ini, Doddy memberikan perhatian khusus terhadap pentingnya peran ayah dalam mendampingi tumbuh kembang anak.
“Kehadiran ayah, baik secara fisik maupun emosional, sangat menentukan pembentukan karakter dan kepribadian anak. Jangan sampai anak-anak mengalami fenomena fatherless, yaitu ayah hadir secara fisik tetapi tidak hadir secara psikologis dalam kehidupan anak,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa penggunaan gawai yang berlebihan dapat mengurangi kualitas interaksi dalam keluarga. Karena itu, para ayah diminta meluangkan lebih banyak waktu bersama anak, memperkuat komunikasi, serta membatasi penggunaan layar agar hubungan emosional dalam keluarga tetap terjaga.






