Fadly menjelaskan, Kota Padang memiliki tiga kekuatan utama sebagai kota jasa. Pertama, sebagai kota pendidikan dengan lebih dari 46 perguruan tinggi swasta serta ratusan ribu mahasiswa yang menjadi penggerak ekonomi berbasis pengetahuan. Kedua, sebagai kota pariwisata yang pada 2025 mencatat kunjungan sekitar 5,3 juta wisatawan dengan capaian retribusi objek wisata mencapai 153 persen dari target. Ketiga, sebagai kota perdagangan dan konektivitas yang menjadi pusat distribusi barang, jasa, dan mobilitas masyarakat di Sumatera Barat.
“Padang juga merupakan kota perdagangan dan konektivitas. Perdagangan besar dan eceran menyumbang 17,52 persen terhadap PDRB Kota Padang, sedangkan transportasi dan pergudangan menyumbang 15,68 persen. Posisi ini menegaskan peran Padang sebagai pusat distribusi barang, orang, dan jasa bagi Sumatera Barat serta kawasan pantai barat Sumatera,” jelasnya.
Dalam kesempatan itu, Fadly juga menyinggung bencana banjir yang melanda Kota Padang pada 3 Agustus lalu. Ia menegaskan bahwa pemulihan pascabencana menjadi titik awal transformasi ekonomi melalui pembangunan yang lebih tangguh dengan prinsip Build Back Better.
“Titik awal transformasi ekonomi kita adalah pemulihan pascabencana hidrometeorologi. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus menggunakan prinsip Build Back Better. Jalan, jembatan, drainase, sungai, permukiman, pasar, kawasan pendidikan, pusat pelayanan, dan destinasi wisata tidak cukup dikembalikan seperti semula, tetapi harus ditata kembali agar lebih aman, produktif, inklusif, dan tangguh terhadap bencana,” katanya.
Fadly juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang terlibat dalam penanganan banjir, mulai dari BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, aparatur pemerintah, relawan, dunia usaha hingga masyarakat.
Sementara itu, Ketua DPRD Kota Padang Muharlion mengatakan berbagai capaian pembangunan harus diiringi dengan kemampuan menjawab tantangan yang masih dihadapi Kota Padang melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan.






