Berita

Diajak Mengetuk Pintu Langit, Tangis Haru PDG 14 Pecah Saat Menata Batin Menuju Arafah

×

Diajak Mengetuk Pintu Langit, Tangis Haru PDG 14 Pecah Saat Menata Batin Menuju Arafah

Sebarkan artikel ini

Makkah, HANTARAN.Co – Suasana haru tak terbendung di salah satu hotel kawasan Aziziyah, Makkah. Ratusan jemaah haji Kloter 14 Embarkasi Padang tampak larut dalam doa dan air mata saat mengikuti bimbingan rohani menjelang keberangkatan ke Padang Arafah.


Fase Armuzna (Arafah, Muzdalifah, dan Mina) yang sudah di depan mata membuat persiapan batin para jemaah begitu emosional. Bagi mereka, ini adalah puncak dari seluruh perjalanan spiritual seumur hidup.


Di sudut ruangan, beberapa jemaah tampak sibuk melipat kain ihram. Sebagian lain menggenggam buku doa kecil sambil melantunkan zikir dengan suara lirih.

Baca juga : Konferensi PWI Dharmasraya IV Sukses Digelar, Dukungan Polres dan Pemkab Tuai Apresiasi


Ada yang menatap kosong, menahan haru, membayangkan bahwa sebentar lagi mereka akan berdiri di hamparan Arafah bersama jutaan manusia dari seluruh penjuru dunia.


“Armuzna bukan sekadar perjalanan fisikDi sanalah kita mengetuk pintu langit,” ujar Pembimbing Ibadah Kloter 14, Tri Andriani Djusair, Minggu (24/5) memecah keheningan malam itu.


Kalimat itu membuat suasana mendadak hening. Mata para jemaah tertuju ke depan. Sebagian mengusap air mata yang mulai jatuh tanpa disadari.

Baca Juga  Beraksi di 9 TKP, Pencuri Laptop di Padang Dilumpuhkan Timah Panas

Diajak Mengetuk Pintu Langit, Tangis Haru PDG 14 Pecah


Bagi jemaah, Arafah bukan hanya titik di peta perjalanan haji. Arafah adalah tempat manusia datang membawa seluruh penyesalan, dosa, harapan, dan doa-doa terbaiknya.

Di sana, jutaan jemaah akan berdiri dalam pakaian serupa, tanpa gelar, tanpa jabatan, tanpa perbedaan.


Pembimbing Ibadah Kloter 14, Tri Andriani Djusair juga mengingatkan jemaah bahwa Wukuf di Arafah adalah momentum paling sakral, di mana semua manusia berdiri setara di hadapan Allah SWT.


Di Padang Arafah nanti, jutaan manusia berkumpul dengan pakaian yang sama. Memohon ampun dengan air mata penyesalan, mengetuk pintu langit dengan doa terbaik,” ujar Tri Andriani, suaranya bergetar menahan haru.


Penyucian Hati Sebelum Niat


Sebelum bus-bus maktab datang menjemput, jemaah dituntun untuk mematangkan persiapan. Tak sekadar merapikan fisik dengan sunnah ihram seperti memotong kuku dan mandi sunnah fokus utama malam itu adalah penyucian batin.


Jemaah dipandu melafazkan istighfar secara berjamaah, disusul syahadat, selawat, dan zikir. Langkah ini diambil agar tumpukan khilaf masa lalu tidak menjadi pembatas bagi doa-doa yang akan mereka tumpahkan nanti.

Baca Juga  Jaga Kualitas Notaris, Pengwil INI Sumbar Gelar Magang Bersama Periode November 2020


Bersihkan hati sebelum melafazkan niat. Jangan hanya tubuh yang bersih, tetapi hati juga harus lapang dan ikhlas,” pesan Tri Andriani kepada jemaah.


Bimbingan ini juga memberikan edukasi inklusif bagi jemaah perempuan yang sedang mengalami uzur syar’i atau haid. Tri Andriani menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak mengurangi hak mereka untuk meraih pahala haji.


“Mereka tetap bisa berniat dari hotel, dengan batasan tidak melaksanakan salat dan thawaf.
Larangan Ihram Mulai Berlaku,” pesannya.
Begitu lafaz “Labbaikallahumma labbaik” mulai menggema di dalam ruangan, atmosfer hotel berubah total. Peringatan sakral pun ditiupkan: saat niat haji sudah terucap, seluruh larangan ihram resmi berlaku.


Jemaah diminta ketat menjaga lisan dari perkataan kotor (rafath), menjauhi perbuatan maksiat (fusuq), dan menahan diri dari pertengkaran (jidal). Di fase krusial ini, petugas meminta jemaah untuk saling menjaga, terutama bagi jemaah lansia.


Dengan hati yang sudah ditata, jemaah Kloter 14 Padang kini benar-benar siap melangkah keluar hotel menuju Arafah, siap mengetuk pintu langit dengan jutaan doa dan harapan(*)