Hasrizal menjelaskan, sasaran program diprioritaskan bagi masyarakat berpenghasilan rendah yang telah terdata dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) pada kategori desil 1 hingga 4, serta masyarakat yang memiliki semangat swadaya dalam pembangunan rumahnya.
Di sejumlah wilayah Pasaman, program tersebut mulai dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Rumah-rumah reyot yang sebelumnya nyaris roboh kini mulai berubah menjadi hunian layak. Bahkan tak sedikit warga yang menangis haru saat rumah mereka mulai direnovasi.
“Selama puluhan tahun kami tinggal dalam ketakutan kalau rumah roboh. Sekarang kami merasa diperhatikan,” ungkap salah seorang warga penerima bantuan.
Selain fokus pada sektor perumahan, Pemerintah Kabupaten Pasaman juga terus memperkuat sektor pertanian melalui program layanan Bajak Gratis bagi petani padi sawah. Program tersebut menjadi salah satu prioritas pemerintahan Welly Suhery dan H. Parulian untuk meringankan biaya produksi petani kecil.
Kepala Dinas Pertanian Pasaman, Prasetyo mengatakan, program Bajak Gratis telah diuji coba di hamparan sawah masyarakat Nagari Jambak, Kecamatan Lubuk Sikaping dan mendapat sambutan positif dari para petani penerima manfaat.
Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Pasaman saat ini juga tengah menyiapkan inovasi digital melalui aplikasi “BAGUS” atau Bajak Gratis Untuk Semua guna mempermudah pelayanan kepada masyarakat.
“Aplikasi BAGUS saat ini diprioritaskan bagi petani kategori Desil 1. Di luar kategori tersebut sistem otomatis tidak dapat login dan akan muncul penjelasan penolakan,” jelas Prasetyo.





