AGAM, HANTARAN.co– Isak tangis keluarga pecah saat jenazah Syafrinaldi (51 tahun) yang akrab disapa Pak Cik dimasukkan ke liang lahat, di Balai Panjang, Jorong III Kampung, Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Kamis (23/4/2026) pagi.
Suasana duka menyelimuti rumah almarhum. Sejak kemaren pelayat datang silih berganti mulai dari keluarga, niniak mamak, tokoh masyarakat, hingga rekan sesama petani untuk memberikan penghormatan terakhir kepada sosok yang dikenal ramah dan ringan tangan membantu sesama itu.
Sebelum diantarkan ketempat peristirahatan terakhir, seratusan warga dan pelayat ikut menshalatkan jenazah di Mesjid Baiturahman, Balai Panjang
Syafrinaldi meninggal dunia setelah tersambar petir saat berada di dalam tenda usai panen padi di area persawahan Lurah Jorong III Kampung, Rabu (23/4/2026) sekitar pukul 15.30 WIB. Peristiwa itu terjadi saat hujan deras disertai kilatan petir melanda kawasan tersebut.
Niko (33 tahun), salah seorang korban selamat, menuturkan detik-detik mencekam saat kejadian. Ia mengatakan, saat itu Syafrinaldi berdiri di dalam tenda sambil memegang termos, berdekatan dengan dua korban lainnya.
“Hujan sangat lebat, petir menyambar hingga tiga kali. Petir ketiga langsung menghantam dada korban. Pak Cik terjatuh dengan luka bakar di bagian dada, bahkan bajunya hangus,” ungkap Niko.
Ia menambahkan, korban diduga meninggal dunia di tempat kejadian. “Saat ditemukan, kondisinya seperti tersenyum,” katanya lirih.
Dalam peristiwa tersebut, dua orang lainnya turut menjadi korban. Erizal M (62 tahun) mengalami gangguan pendengaran serius dan hingga kini belum dapat mendengar. Saat ini ia masih menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, Debi Andika Putra (30 tahun) sempat dirawat di rumah sakit, namun kondisinya kini berangsur pulih.
Niko juga mengungkapkan, tidak ada firasat khusus sebelum kejadian. Namun, ada hal yang berbeda dari kebiasaan korban pagi itu.
“Biasanya sebelum ke sawah, Pak Cik mampir ke rumah saya untuk ngopi bersama. Tapi pagi itu, Pak Cik tidak mau masuk, hanya berdiri dan memandang jauh ke tengah sawah,” kenangnya.
Saat kejadian, Niko berada di luar tenda untuk mengalirkan air hujan agar tidak masuk. Sementara itu, empat orang berada di dalam tenda. Tiga di antaranya tersambar petir, dan satu lainnya selamat.
Terpisah, Wali Jorong III Kampung Nagari Gadut, Nevrigon, mengatakan Syafrinaldi dikenal sebagai pribadi yang baik dan pekerja keras. Sehari-hari, almarhum bekerja sebagai petani sekaligus tukang bangunan, serta menjadi tulang punggung keluarga.
“Beliau sosok yang suka membantu. Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi kami,” ujarnya.
Nevrigon juga menyebutkan para korban berasal dari keluarga sederhana yang sangat membutuhkan bantuan baik untuk keluarga yang selamat maupun meninggal, terutama untuk biaya pengobatan.
“Kami berharap ada perhatian dari pemerintah daerah, baik Kabupaten Agam maupun Provinsi Sumatera Barat, untuk membantu keluarga korban. Bantuan tersebut sangat dibutuhkan,” harapnya.(*).
Petir di Tengah Sawah, Pak Cik Pergi Mendadak, Tangis Iringi Pemakaman.





