“Ini langkah strategis untuk memastikan produksi tetap terjaga. Kita optimistis, dengan percepatan ini, dalam waktu dekat sudah bisa memasuki masa panen,” katanya.
Ia menambahkan, pemerintah daerah siap menindaklanjuti arahan pusat, termasuk mengantisipasi potensi kekeringan agar siklus tanam tetap berjalan optimal.
Sementara itu, Bupati Agam, Benni Warlis, menyampaikan bahwa daerahnya siap mendukung penuh program tersebut. Ia menyebutkan bahwa proses pemulihan lahan terdampak terus berjalan.
“Ke depan, sekitar 200 hektare lahan rusak sedang akan kita lanjutkan pengerjaannya, dan sekitar 1.000 hektare masuk program optimalisasi lahan,” jelasnya.
Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan di lapangan, terutama ancaman longsor yang dapat merusak kembali lahan yang telah diperbaiki. Karena itu, dukungan alat berat dinilai sangat diperlukan.
“Kita butuh minimal 20 unit alat berat untuk siaga di titik rawan. Jika terjadi longsor, bisa langsung ditangani agar lahan tidak kembali rusak,” tegasnya.
Gerakan tanam serentak ini melibatkan berbagai pihak, mulai dari Direktorat Jenderal Prasarana dan Sarana Pertanian, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian, pemerintah daerah, hingga penyuluh pertanian dan petani setempat. (*)






