Berita

Di Balik 387 Jemaah, Hanya Dua Petugas: Kisah Pengabdian Kloter 4 yang Menembus Batas

×

Di Balik 387 Jemaah, Hanya Dua Petugas: Kisah Pengabdian Kloter 4 yang Menembus Batas

Sebarkan artikel ini
Jemaah
Di Balik 387 Jemaah, Hanya Dua Petugas: Kisah Pengabdian Kloter 4 yang Menembus Batas. ist

Padang, HANTARAN.Co — Di tengah gelombang manusia yang tak pernah surut mengitari Masjidil Haram, telepon genggam Arrayan dan Hamid Muhakam nyaris tak pernah berhenti berdering. Dari urusan kesehatan, kamar, kunci, hingga pendampingan ibadah, semua bermuara kepada dua orang ini. Di saat kloter lain didampingi formasi petugas lengkap, Kloter 04 Embarkasi Padang (PDG 04) harus menunaikan ibadah haji dengan hanya dua petugas inti yang memikul tanggung jawab untuk 387 jemaah.

Lebih dari 40 hari mereka bertugas di Tanah Suci. Menjalani peran yang semestinya diemban empat petugas kloter, menghadapi keterbatasan tenaga, kehilangan rekan seperjuangan, hingga mendampingi jemaah dalam berbagai situasi darurat. Namun dari balik segala kekurangan itu, mereka berhasil mengantar seluruh rangkaian pelayanan hingga kepulangan jemaah ke Tanah Air.

Arrayan, yang bertugas sebagai tenaga kesehatan kloter, mengaku harus menjalankan fungsi ganda sejak awal keberangkatan. Dokter yang semula ditugaskan tidak dapat berangkat karena alasan kedinasan, sementara pembimbing ibadah kloter harus menjalani perawatan akibat sakit.

Baca juga : Jemaah PDG 04 Asal Bengkulu Tiba di Padang, Dua Wafat di Tanah Suci, Satu Tanazul

“Qadarullah, sebelum berangkat ternyata hanya berdua petugas kloter. Saya sebagai tenaga kesehatan kloter ditambah satu ketua kloter. Di kloter kami tidak ada dokter, jadi saya harus merangkap sebagai dokter,” ungkap Arrayan saat tiba di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Minggu (7/6/2026) malam.

Tugasnya tidak berhenti pada pelayanan kesehatan. Bersama seorang petugas Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), ia juga membantu berbagai kebutuhan pembinaan ibadah jemaah.

“Pada saat bimbingan ibadah jemaah, kadang kita membimbing tawaf, sa’i, dan kegiatan lainnya. Kita dituntut serba bisa untuk melayani jemaah,” katanya.

Di Balik 387 Jemaah, Hanya Dua Petugas: Kisah Pengabdian

Cobaan yang mereka hadapi bertambah berat ketika rombongan telah tiba di Madinah. Kabar duka datang dari Bengkulu. Pembimbing ibadah kloter yang sebelumnya menjalani perawatan dinyatakan meninggal dunia.

Baca Juga  Covid-19 Meninggi, Pjs Bupati Solsel Incar Calon Pengantin

“Ketika kami sudah sampai di Madinah, qadarullah beliau meninggal dunia di Bengkulu,” tutur Ketua Kloter 4, Hamid Muhakam.

Kepergian rekan mereka membuat beban pelayanan semakin besar. Dengan jumlah jemaah mencapai 387 orang yang terbagi dalam 10 rombongan, hampir seluruh persoalan harus ditangani oleh Hamid dan Arrayan.

Hamid menggambarkan posisi ketua kloter layaknya kepala rumah tangga yang harus siap menghadapi berbagai persoalan setiap saat.

“Mau masalah listrik, masalah kunci, masalah kamar mandi, sampai persoalan-persoalan lain. Tetapi alhamdulillah semuanya bisa diselesaikan bersama-sama,” ujarnya.

Di tengah keterbatasan itu, mereka menemukan kekuatan pada para ketua rombongan (Karom) dan ketua regu (Karu) yang menjadi ujung tombak pelayanan di lapangan. Melalui koordinasi yang solid, berbagai informasi dan kebutuhan jemaah tetap dapat terlayani dengan baik.

“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada ketua rombongan dan ketua regu. Mereka luar biasa. Kami sama-sama bahu-membahu menyelesaikan berbagai persoalan,” kata Hamid.

Bagi Arrayan, ujian paling berat datang setelah fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Banyak jemaah mengalami gangguan kesehatan akibat kelelahan fisik dan perubahan cuaca yang ekstrem. Di saat bersamaan, jumlah tenaga kesehatan dan ketersediaan obat-obatan sangat terbatas.

“Semua membutuhkan pelayanan. Semua ingin dilayani. Sedangkan kami memiliki keterbatasan tenaga dan obat-obatan,” ujarnya.

Secara logika, situasi tersebut terasa nyaris mustahil dijalani hanya oleh dua petugas. Namun Arrayan mengaku banyak kemudahan yang hadir di luar perkiraan selama menjalankan amanah tersebut.

“Secara hitung-hitungan sebenarnya sangat berat. Tetapi karena niatnya ibadah, alhamdulillah semua bisa berjalan lancar sampai hari ini,” tuturnya.

Baca Juga  HJ-RI Ditetapkan Sebagai Bupati dan Wakil Bupati Terpilih, Risnaldi Lakukan Sujud Syukur

Di tengah kesibukan melayani jemaah, tersimpan pula pengalaman spiritual yang membekas dalam ingatan keduanya.

Hamid mengenang saat mendampingi seorang jemaah lansia pengguna kursi roda untuk menunaikan umrah wajib. Di tengah padatnya arus manusia di sekitar Ka’bah, ia merasakan kemudahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

“Saat mendekati Ka’bah rasanya seperti diberi jalan. Seakan-akan suasananya sangat lapang sehingga jemaah yang kami dampingi bisa beribadah dengan nyaman,” kenangnya.

Sementara bagi Arrayan, momen paling berkesan terjadi saat mendampingi proses pemulasaraan seorang jemaah yang wafat di Madinah. Setelah menjalankan tugas tersebut, ia bersama rekannya mendapat kesempatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya.

“Kami kemudian dipanggil petugas untuk masuk dan salat di Raudhah pada saf paling depan,” ujarnya.

Di tempat yang menjadi dambaan jutaan umat Islam dari seluruh dunia itu, doa yang ia panjatkan bukan untuk dirinya sendiri. Ia memohon agar seluruh jemaah yang menjadi tanggung jawab mereka diberikan kesehatan, keselamatan, serta dapat kembali ke Tanah Air dalam keadaan lengkap.

Kini, doa itu telah menjadi kenyataan.

Setelah lebih dari empat puluh hari mengemban amanah di Tanah Suci, Hamid Muhakam dan Arrayan akhirnya mengantar Kloter 04 Embarkasi Padang kembali ke Indonesia. Kepulangan itu bukan sekadar akhir dari perjalanan haji, melainkan penutup sebuah kisah tentang pengabdian yang melampaui keterbatasan.

Di balik ribuan langkah tawaf, padatnya arus jemaah, dan panjangnya hari-hari pelayanan, ada dua petugas yang menjalankan banyak peran sekaligus. Mereka membuktikan bahwa dedikasi tidak selalu lahir dari kelengkapan, melainkan dari kesediaan untuk tetap melayani, bahkan ketika keadaan jauh dari sempurna. (*)