Dani juga mengungkapkan bahwa DPRD sengaja mengesampingkan sejumlah agenda lain demi mengakomodasi aspirasi masyarakat terkait persoalan klenteng di Pulau Cubadak.
“Padahal hari ini ada tiga RDP. Karena audiensi ini kami anggap penting, maka kita agendakan sekarang. Jangan baru mulai saudara sudah main gas saja. Marilah kita saling menghargai dan menciptakan suasana yang kondusif,” ucapnya lagi.
Sementara itu, Ketua Pemuda Peduli Negeri Indonesia (PPNI) Sumatera Barat, M. Rafi, menegaskan bahwa kritik yang disampaikannya bukan untuk menyerang DPRD, melainkan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap polemik yang terus berkembang tanpa kepastian penyelesaian.
Menurutnya, persoalan bangunan yang disebut menyerupai klenteng tersebut harus dibuka secara terang benderang kepada publik agar tidak menimbulkan keresahan berkepanjangan di tengah masyarakat.
“Kalau ada hal-hal yang kurang berkenan, itu pertanda ada kekecewaan yang kami rasakan. Dan kami menyampaikan permohonan maaf,” ujar M. Rafi.
Ia menilai persoalan tersebut tidak bisa dilepaskan dari aspek perizinan yang telah diterbitkan pemerintah daerah kepada investor.





